“Politik Sastra” Versus “Politik Tekstual Sastra”

“Politik tekstual sastra” sangat berbeda dengan “politik sastra”, “sebagaimana jaringan urat dan daging dalam tubuh”. Perbedaan yang telah dilompati oleh Tuan Edy A Effendi. Lompatan semacam ini, adalah kehendak untuk mencampur dan mengabur fenomena hidup.
Feminisme sebagai fenomena kehidupan, membawa wacana peran perempuan dan peran lelaki. Tapi, saat Simone De Beauvoir pandang-memandang dengan dunia dan mulai [...]

ayat-ayat (“politik”) cinta

saya belum pernah bisa yakin sebuah novel bisa menjadi fenomenal di tengah masyarakat yang gemar bergunjing ketimbang membaca. fenomenal yang saya maksud: bahwa novel itu benar-benar menarik perhatian masyarakat luas dan pelangi karena mereka suka benar pada novel itu.
dulu sinetron siti nurbaya menghebohkan masyarakat, tapi apa kenyataannya terhadap daya baca masyarakat – buku siti nurbaya [...]

Kelirunya Kaum Akademisi

Di penghujung tahun lalu, seakan gemas menyimak arah politik dan polemik sastra yang mengeras, seorang penyair dalam esainya meminta agar kembali kepada teks. Kembali kepada teks, artinya bukanlah menunjukkan ke depan publik “inilah saya”, seperti anggapan orang dengan polemik brutal Saut-Wowok dan Goenawan-TUK. Tetapi “inilah karya saya,” seperti yang terlihat dalam tanggapan balik terhadap Taufiq [...]

Ilmuwan

Dimuat di Republika, 12/15/2002
Saya membayangkan munculnya ilmuwan gila yang menemukan hukum-hukum tersembunyi alam semesta, dan berdasarkan hukum-hukum itu, ia dapat mempercepat jalannya planet, sehingga tata surya menjadi kacau dan planet-planet bertabrakan. Bayangan saya ini persis seperti kemunculan Hitler atau Musolini dalam panggung sejarah.Karena pikiran semacam itu, akhirnya saya jadi takut. Sebab bagi saya kehidupan ini [...]

KUCING HITAM

Dimuat di [...]