saya belum pernah bisa yakin sebuah novel bisa menjadi fenomenal di tengah masyarakat yang gemar bergunjing ketimbang membaca. fenomenal yang saya maksud: bahwa novel itu benar-benar menarik perhatian masyarakat luas dan pelangi karena mereka suka benar pada novel itu.
dulu sinetron siti nurbaya menghebohkan masyarakat, tapi apa kenyataannya terhadap daya baca masyarakat – buku siti nurbaya itu sendiri? nihil: sastra tetap saja menjadi medan yang terpencil.
saya menduga ayat-ayat cinta digerakkan oleh gerakan yang bukan dalam spirit “gemar membaca”, tapi dalam bingkai politik. lebih tepatnya: politik pada suatu nilai tertentu yang bersesuaian atas novel itu.
kalau benar demikian, maka jangan bersenang hati dulu, karena cobalah buat survey siapa pembaca novel ayat-ayat cinta, dan darimana datangnya kegemaran membaca yang seolah jatuh dari langit itu.
dugaan saya ini dikuatkan oleh kenyataan: kok tiba-tibanya petinggi negeri ini seolah gemar benar menonton film – film ayat-ayat cinta. lalu kemana mereka selama ini?
tapi ayat-ayat cinta ini diberi anugerah oleh pusat bahasa sebagai novel yang berhasil menggugah daya baca masyarakat.
tapi kalau dugaan saya itu benar, maka persoalan yang tersisa adalah: berhentilah mempolitikkan segala sesuatu, demi tujuan politik yang entah untuk apa itu.
sebab lawan kita dalam konteks global, bukanlah dunia seolah-olah, tapi dunia riel dimana kerjasama dan kompetisi demikian amat kerasnya. dunia seolah-olah itu pada saatnya nanti akan menenggelamkan kita dalam kubangan yang mungkin membuat kita sukar bangkit lagi.
tapi saya menghargai takdir penulis dan pembuat ayat-ayat cinta. itu namanya rejeki nomplok.
tapi sampai kapan kreator di negeri yang gemah ripah loh jenawi ini bisa bangkit atas kakinya sendiri? dimana segala sesuatu berjalan apa adanya tanpa harus direkayasa. tanpa harus seolah tebak-tebak buah manggis: rejeki nomplok.
tapi kalau dugaan saya salah mohon dimaafkan. tapi rasa-rasanya benar sih.
aih.
(hudan Hidayat)
DIarsipkan di bawah: Gumam
Iya, sepertinya memang geliat sastra belum terasa banget . Faktor lakunya sebuah karya sastra saat ini saya kira malah disumbangkan oleh faktor diluar kesastraan itu sendiri.
Ayat-Ayat Cinta, Sebuah Dogma?
Kritik sastra, dalam hal ini kritik atas novel Ayat-Ayat Cinta (selanjutnya saya singkat: AAC) dan kritik filmnya, menarik untuk dibuat secara merdeka dan seksama dengan beberapa alasan. Pertama sebagai sebuah karya sastra, AAC, menurut saya, telah menawarkan diskursus nilai dalam dua entitas sekaligus, yaitu universal dan partikular. Universal yang saya maksud di sini terkait dengan nilai-nilai religi (baca: Islam) yang ‘rahmatan lil alamien’, yang bisa bersentuhan secara positif dengan nilai-nilai universal agama lain, seperti perdamaian, kasih sayang, toleransi, dan sebagainya. Sementara partikular berhubungan dengan kaidah dan nilai khusus yang membedakan perspektif tertentu dalam Islam dengan agama lainnya. Lebih jauh, yang partikular berkaitan dengan urusan khusus yang nafsi-nafsi, terkait dengan ritual keimanan. Hal ini seperti pemahaman ‘muhrim’ dalam relasi sosial di AAC dan ritual tertentu yang didasarkan pada kitab dengan sekian multi tafsirnya. Dan sebagai manusia yang memahami dan menjunjung tinggi perbedaan, kita tinggal memberikan penghormatan yang tinggi atas kebebasan interpretasi. Dalam AAC tawaran wacana dua entitas di atas dilakukan oleh sang penulis muslim, Habiburrahman, yang memang memiliki latar ideologi-sosio-kultural Islam. Secara dialektis sebenarnya Habiburrahman memposisikan dua entitas itu dalam kerangka ‘privat room’ dan ‘public space’ tanpa harus membawanya dalam situasi yang saling mengklaim dan pure binary.
Kedua, AAC memberikan tawaran terbuka, bukan dogma hegemonik-monolitik menurut saya, tentang sebuah keyakinan dan relasi lelaki perempuan, manusia beda agama, masyarakat berbeda budaya dan beberapa ‘tema’ lainnya. Konflik sosial dan psikologis yang dialami tokoh-tokoh kunci dalam AAC yang ‘not easy to solve’, menurut hemat saya membutuhkan pembacaan yang tidak parsial. AAC, jika kita lihat dengan jeli sesungguhnya tidak hanya memotret persoalan poligami, tetapi, lebih dari itu, AAC juga menyuguhkan wacana kritis atas ‘masyarakat’ (setting Jazirah Arab bisa menjadi salah satu elemen di sini) yang di dalamnya terdapat pemikiran radikal tetapi penuh taglid, seringkali munafik, membedakan kelas manusia (seperti tuan dan budak), dan beberapa fenomena jumud (tidak maju) lainnya. Dalam AAC, misalnya ada tokoh seorang Arab yang begitu benci terhadap dua orang wanita bule (wartawan) yang dicapnya kafir dan sebagai musuh yang mengancam Islam. Sementara beberapa mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas Al Azhar dan beberapa mahasiswa dari negara Arab berusaha menenangkan dan memberikan penjelasan kepada orang Arab yang emosional tadi dengan menyatakan bahwa dua orang bule tadi juga manusia yang secara universal merindukan kasih sayang, perdamaian dan persaudaraan. ‘Conflicting portrait’ di atas setidaknya memberi kesan bahwa Habiburrahman berusaha untuk mendeskripsikan bahwa Islam tidak berada dalam satu frame saja, tetapi banyak tafsiran yang beraneka ragam di dalamnya yang seringkali membuat pandangan berbeda atas dogma, sehingga konstruksi barat atas Islam perlu mendapat pelurusan.
Kalau kita baca, dua orang wartawan bule itu sebenarnya ingin tahu lebih banyak tentang islam dan Fahri, dalam suatu pertemuan kusus dengan mereka, kemudian berusaha menjelaskan bagaimana sebenarnya islam memosisikan perempuan, memandang dunia barat, memandang terorisme, mengelola persolan domestik kerumahtanggaan, memaknai perdamaian, dan sebagainya. Menurut pendapat saya, habiburrahman berupaya mendekonstruksi cintra Islam yang selama ini dalam pandangan barat selalu dilihat negatif dan menakutkan karena ‘teroris’nya.
Upaya Habiburrahman untuk mengangkat potret peradilan yang korup, rusak dan tidak memiliki kecakapan dalam menegakkan keadilan menunjukkan concern-nya terhadap isu hukum. Apalagi hal ini, dalam cerita, terkait dengan ‘martabat’ Indonesia di depan mata negara lain. Lalu potret Lembaga pendidikan (dalam hal ini Al Azhar) yang berlaku kurang lebih sama: mengambil keputusan memecat Fahri sebelum dia terbukti bersalah di peradilan.
Lalu tentang Fahri yang menikahi lebih dari satu wanita menurut saya, ceritanya juga tidak dihadirkan oleh Habiburrahman dalam suasana yang berada dalam satu mainstream saja: bahagia, indah, dianjurkan dan karena itu mesti dilakukan. Pendek kata poligami dalam perspektif penulis justru dilihat pebuh tantangan dan hambatan. Lebih pendek lagi poligami tidak ‘taken for granted’ sebagai pilihan yang kemudian dilegalisasi melalui ‘ideologi cerita’ AAC. Betapa kita melihat dua istri Fahri seringkali terlibat dalam rasa cemburu dan perasaan tak menentu, serba salah dan tak sepenuhnya bisa memiliki sang suami, beberapa kali mereka tampak tertekan dan tak bias menyembunyikan kegalauannya karena cintanya terbagi. Fahri juga tidak mudah menghadapi rumah tangganya. Kalau kita baca dengan jeli sebenarnya Fahri pada awalnya tak ada pikiran sama sekali untuk menikahi Maria. Inilah realitas yang perlu dicermati tentang poligami dalam AAC: meninggalkan sekian banyak persoalan. Sebagai sebuah pilihan, poligami ternyata dihadirkan Habiburrahkan sebagai jalan yang membutuhkan kesiapan sprititual dan material. Keidakmampuan justru bisa menyiksa, seperti tampak pada tokoh Fahri yang mendapatkan tekanan baik secara psikis maupun materi. Sebagai lelaki Ia merasa malu karena terlalu banyak bergantung pada kemampuan istri pertamanya yang kaya.
Ketiga, AAC telah mengilhami beberapa pekerja film untuk mengangkatnya ke layar lebar. Hanung sebagai sutradara terkemuka dengan sekian kapabilitas ide dan teknisnya, tentu tidak sembarangan memilih naskah untuk difilmkan. Sejak diterbitkan, novel AAC telah terjual ribuan bahkan kini jutaan kopi. Beberapa sastrawan terkemuka Indonesia seperti Ahmad Tohari, memberikan komentar posisif atas film novel AAC. Budayawan Emha Ainun Nadjib yang suara sholawatnya dijadikan latar ilustrasi, dengan restunya, paling tidak melihat film AAC terutama novel AAC, meski dalam beberapa scene nya tidak bisa lepas dari penanda par-simbolik Islam, tetapi kekuatan universitas nilainya tak bisa ditepiskan. Hubungan Maria dan Fahri, bisa saja misalnya kita baca sebagai media semiotis saja untuk dijadikan metafor hubungan ‘mesra dan damai’ dua entitas berbeda yang tentu pada akhirnya tidak harus berhenti pada persoalam pergumulan tubuh suami istri, tetpi lebih luas dari itu. Kenapa tidak. Pembaca dan kritikus sebaiknya memang tidak terjebak pada ‘lantunan ayat-ayat kitab suci yang terkesan eksklusif’, gerakan ritual tubuh para aktor yang melakukan laku khusus ubudiyah, tetapi luput memaknai penanda ‘cinta, kasih sayang antar insan beda keyakinan, gemuruh konflik dunia, yang telah dihadirkan oleh Habiburrahman.
Terkait dengan adaptasi novel dalam film, dalam beberapa literatur yang ada dinyatakan bahwa demi pertimbangan durasi, efektifitas scene, dan teknis lainnya, cerita dalam novel tak semuanya bisa diakomodasi. Hal inilah yang perlu diperhatikan oleh para kritikus sehingga subtansi pesan dalam Novel AAC Habiburrahman tereduksi karena ketidaktepatan dalam menginterpretasi.
Di beberapa daerah, ada kelompok feminis yang memandang sinis film AAC tanpa melakukan pembacan secara jeli dan cerdas terlebih dahulu. Yang terjadi kemudian adalah opini dan pewacanaan yang tidak berimbang dan emosional. Anehnya mereka kurang tergoda untuk mewacanakan sudut pandang mereka atas film ‘Berbagi Suami’ yang dibintangi Rieke’ Oneng Dyah Pitaloka dan Ria Irawan. Nah?
Merdeka!
Salam takdzim,Yusri fajar