Posted on Mei 25, 2008 by Hudan Hidayat
Bahasa yang Mencari Kata
Adalah roh yang membutuhkan ruang, yakni ruang tubuh dan ruang bahasa. Tanpa roh, ruang tubuh
dan ruang bahasa hanyalah benda mati. Pada tubuh, benda mati itu mungkin berupa kaki atau tangan
yang terpotong, atau tangan dan kaki yang lengkap, sebagai bagian dari tubuh. Pada bahasa,
ia adalah bentuk grafis dari huruf.
‘Benda [...]
DIarsipkan di bawah: Tak Berkategori | 2 Komentar »
Posted on Mei 4, 2008 by Hudan Hidayat
Tragedi bangsa Indonesia sebagai negara yang mempunyai kekayaan alam yang melimpah, adalah abainya kebijakan negara yang membuat segenap warganya berpikir obsesif, bahwa untuk menjadi kaya dan sejahtera haruslah mengolah kekayaan alamnya dengan tangannya sendiri. Sehingga kita membangun dan tumbuh bukan semata berdasar pengetahuan (tehnologi) dan bantuan orang lain, tapi bertumpu dengan modalnya sendiri. Yakni sumber [...]
DIarsipkan di bawah: Esai | Leave a Comment »
Posted on Mei 4, 2008 by Hudan Hidayat
Sebuah statemen tak bisa mengelak dari klaim. Seperti “sumpah kaum muda” adalah klaim akan rasa memiliki: Indonesia yang bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu. Dan klaim tak memerlukan referendum “diterima atau ditolak” bergantung isi statemennya sendiri. Teks “Proklamasi” dipuja rakyat Indonesia karena dengannya, mereka bebas dari belenggunya.
Antara “Sumpah Pemuda” dan “Proklamasi”, ada ide yang berlanjut. [...]
DIarsipkan di bawah: Esai | Ditandai: bangsa, pemuda, revolusi | 1 Komentar »
Posted on Mei 2, 2008 by Hudan Hidayat
Carolina,
Cerpen “tradisional” bertaruh dengan plot yang mengusung watak dan konflik, suasana dan pastilah bahasa juga. Tapi cerpen “modern” apalagi “postmodern”, tidaklah terantai dengan semua unsur-unsur fiksi itu. Karena fiksi itu, seperti kerja lamunanmu itu sendiri: bisa mengimajinasikan sebuah bintang, yang kamu harapkan jatuh di depan kakimu.
Semangat yang berkobar ke dalam pilihan diksi dalam [...]
DIarsipkan di bawah: Esai | 1 Komentar »