<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Karya Hudan Hidayat</title>
	<atom:link href="http://karyahudan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://karyahudan.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 May 2008 03:19:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='karyahudan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Karya Hudan Hidayat</title>
		<link>http://karyahudan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://karyahudan.wordpress.com/osd.xml" title="Karya Hudan Hidayat" />
	<atom:link rel='hub' href='http://karyahudan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Bahasa yang  Mencari Kata</title>
		<link>http://karyahudan.wordpress.com/2008/05/25/bahasa-yang-mencari-kata/</link>
		<comments>http://karyahudan.wordpress.com/2008/05/25/bahasa-yang-mencari-kata/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 May 2008 03:19:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hudan Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karyahudan.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Bahasa yang Mencari Kata Adalah roh yang membutuhkan ruang, yakni ruang tubuh dan ruang bahasa. Tanpa roh, ruang tubuh dan ruang bahasa hanyalah benda mati. Pada tubuh, benda mati itu mungkin berupa kaki atau tangan yang terpotong, atau tangan dan kaki yang lengkap, sebagai bagian dari tubuh. Pada bahasa, ia adalah bentuk grafis dari huruf. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karyahudan.wordpress.com&amp;blog=3500435&amp;post=23&amp;subd=karyahudan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<pre>Bahasa yang Mencari Kata

Adalah roh yang membutuhkan ruang, yakni ruang tubuh dan ruang bahasa. Tanpa roh, ruang tubuh
dan ruang bahasa hanyalah benda mati. Pada tubuh, benda mati itu mungkin berupa kaki atau tangan
yang terpotong, atau tangan dan kaki yang lengkap, sebagai bagian dari tubuh. Pada bahasa,
ia adalah bentuk grafis dari huruf.
    ‘Benda mati’ sebagai unit terkecil dari bahasa, seperti kaki atau tangan yang terpotong,
adalah bagian dari kenyataan yang terserak. Maka sebagai benda mati,
mereka tidak bisa mengenali kenyataan, apalagi memainkan kenyataan. Mereka bisa mengolah kenyataan,
apabila mereka hidup, memiliki tenaga, dan kekuatan. Seperti pusaran air yang mengisap.
    Tenaga bahasa adalah kesadaran, yang seolah arus listrik dengan kabel-kabel yang menjuntai,
di mana pikiran dan perasaan, gagasan dan harapan, berada di dalamnya. Kesadaran adalah pancaran roh
yang tak mau lepas dari Tuhannya. Juga tak mau lepas dari semesta. Pada dunia, kesadaran itu seolah kasmaran—
seakan pemuda yang tak mau lepas dari cintanya.Kesadaran sebagai tenaga bahasa, bertemu dengan
misteri bahasa sebagai kemungkinan bahasa. Mereka bersama menyingkap dunia— dunia kenyataan.
Dengannya kenyataan ditimang, atau dicampakkan. Dengannya kenyataan diberi bentuk. Seolah jabang bayi
dalam perut ibu.
Misteri bahasa tak akan menjadi tenaga bahasa, tanpa manusia yang menyadari. Secanggih apa pun permainan
bahasa– bentuk dan cara menyusun huruf, ia akan tetap menjadi parade benda mati, tanpa kesadaran.
Kesadaranlah yang mengenali dan mengolah kenyataan. Ia seperti matahari yang menyiram bumi. Bumi yang
terkena matahari itu, hidup dan berkembang, merangkai dirinya, menjelmakan makna dirinya. Dengan jalan
begitulah manusia membangun dunia, dunia yang direngkuhnya dari kenyataan, yang mencengangkannya sebagai
mahluk di bumi.Kenyataan semesta adalah rangkaian benda-benda yang terserak di alam. Seperti pecahan batu
yang jatuh dari tubuhnya. Atau sepotong ranting yang terenggut dari batangnya. Fragmentasi dua benda alam ini,
hanyalah seonggok benda mati– keindahan dan fungsinya ada dalam kelengkapan tubuh batu dan tubuh batangnya.
Atau seperti tangan dan kaki manusia yang terputus dari tubuhnya. Mereka tidak berjiwa, tidak hidup,
karena jiwa dan kehidupannya ada di dalam tubuh induknya. Mereka cuma fragmen di alam, seperti kuku burung
yang jatuh dan mengering. Keindahan kuku burung ini ada dalam keutuhan burung itu sendiri. Kuku itu akan
menjadi hidup saat ia ada dalam tubuh burung.
Begitulah saya menghayati tampilan dari huruf-huruf. Huruf-huruf yang kita pandang. Huruf-huruf yang memandang.
Grafis a, b, c, dan seterusnya, adalah benda mati seperti fragmen alam adalah benda mati. Mereka belum
berjiwa, belum hidup, dan tak dapat mengenali, dan mengolah kenyataan. Mereka belum berkesadaran. Maka
apakah bahasa? Bahasa adalah huruf-huruf yang dijatuhi, huruf-huruf yang merangkai kesadaran. Rangkaian
huruf inilah yang menjelmakan misteri— misteri bahasa. Misteri bahasa datang dari kesadaran, dari rangkaian,
dari permainan dan kemungkinan huruf-huruf.
Seperti roh yang terperangkap dalam tubuhnya, begitulah manusia terperangkap dalam semesta. Atau seperti
kesadaran terperangkap dalam kata-kata. Mereka yang terperangkap ini ingin melepaskan diri, tapi bukan
untuk melarikan diri. Mereka ingin menjangkau dan mengenali, siapakah gerangan yang membuat mereka
terkurung— tak bisa lepas.
Murung, putus asa, sesekali harapan, adalah ciri dari mereka yang terperangkap. Tapi tidak menyerah
dan kalah. Upaya ‘perlawanan’ dilakukan dengan membuat symbol— juga metafor, untuk menjangkau keluar
dari dirinya, atau masuk ke dalam dirinya. Gerak dari roh yang gelisah ini, membutuhkan ruang, yaitu
bahasa. Maka bahasa pun bergerak. Ia mengerahkan huruf-hurufnya, demi melayani gelisahnya kesadaran,
atau hasrat kesadaran untuk mengangkat dirinya, merebut makna dunia yang tak dikenalinya, atau coba dikenalinya.
Karena itu tiang dan akhir, topang dan duka, belum membentuk makna apa-apa, belum memisteri apa-apa,
saat ia kita baca sebagai fragmen. Apalagi kalau kumpulan kata-kata itu dipotong dan potongannya
dipisahkan. Maka ia hanya grafis huruf. Belum dapat memancing kesadaran pembaca, karena memang belum
diberi kesadaran oleh penulisnya. Tetapi saat penulisnya bergerak, merangkai kata-kata itu, ke dalam
penghayatannya akan kenyataan alam, maka menjelmalah semua kata-kata itu, membentuk dunia kenyataan.
Dalam puisi Sutardji (Colonnes Sans Fin), dunia kenyataan yang kita kenali seolah ‘tiang tanpa akhir’.
Si aku-lirik berhadapan dengan keluasan semesta tanpa batas. Kepada siapa dia bertanya, makna keluasan
semesta? Tak seorang pun yang dapat dijadikan rujukan. Sebab tak ada yang dapat menjelaskan misteri semesta.
Indera manusia, hanya dapat menjangkau sejauh indera itu sendiri. Tapi ‘mengapa dunia’, ‘kemanakah kau
dan aku’, dalam keluasan semesta itu, tak seorang pun yang tahu. Karena itu, ‘tiang tanpa topang itu’,
seolah telah menjadi ‘tanda duka luka’nya. Ia berduka, karena dalam keluasan semesta ia tak mengerti.
Menyadari itu, si aku-lirik pun bergumam, ‘betapa kecilnya kau jauh di bawah kakiku’.
Inilah dunia kenyataan yang bukan saja berhasil menguak misteri semesta, tapi juga memunculkan misteri
bahasa. Sebab bahasa di sana telah memberi tenaga untuk merengkuh semesta, terpukau dengan semesta.
Ia telah membuat kehidupannya sendiri, logikanya sendiri. Dari huruf-huruf ‘mati’, tiba-tiba ia bergerak,
hidup, merangkai, dan akhirnya mengandung semesta dalam dirinya. Tiang, akhir, sebagai kata (kenyataan) yang
kita kenal, adalah biasa, tak bertenaga, tak bermisteri. Tetapi begitu ‘tiang’ itu digabung dengan ‘akhir’,
lalu ditambahkan kata ‘tanpa’, maka menjelmalah keluasan tanpa batas itu (tiang tanpa akhir tanpa
apa di atasnya). (Oh indahnya!). Maka misteri bahasa, datang dari bagaimana kata-kata itu saling
merangkai, saling bermain. Sebaliknya, semesta itu akan buyar, dan membuyar, bila rangkaian huruf-huruf
tadi dipenggal, dan diceraikan dari tubuhnya— tubuh bahasa. Misterinya pun akan berantakan. Ia kembali
menjadi benda mati—  jejeran grafis dari huruf-huruf.
Bila puisi Sutardji itu diarahkan pada semesta dalam ke-luas-annya, maka puisi Amir Hamzah mencoba
merengkuh Tuhan dalam ke-tiada-an-Nya. Bila Sutardji memakai metafor ‘tiang’ yang melambangkan keluasan
alam, maka Amir Hamzah memakai metafor ‘makhluk yang bercakar’, yang dapat ‘cemburu dan ganas’,
melambangkan Tuhannya. Tuhan yang telah ‘memangsanya’, yang membuat ‘segala cintanya hilang terbang’,
kecuali pada Tuhan itu sendiri. Situasi aku-lirik dengan Tuhannya, dalam puisi Padamu Jua ini,
seolah sepasang kekasih di mana seorang mencinta sungguh, sedang lainnya seolah acuh. Karena itu
si aku-lirik menjadi ‘nanar, gila sasar’. Tapi ia terus berusaha merengkuh Tuhannya. Ia terus
‘bertukar tangkap dengan lepas’ (Oh, misterinya!).
Demikianlah kesadaran mencari bahasa, dan misteri bahasa mencari kata-kata. Kesadaran yang ingin
mengenali dan mengolah alam. Bahasa yang ingin mengenali dan mengolah makna. Mereka ingin menumpahkan
diri. Diri yang tumpah itu, adalah diri yang terbuka di hadapanmu. Kau tinggal memetiknya. Memungutnya
dengan kesadaran, serta misteri bahasa dalam dirimu.
(hudan hidayat)
</pre>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/karyahudan.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/karyahudan.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/karyahudan.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/karyahudan.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/karyahudan.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/karyahudan.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/karyahudan.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/karyahudan.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/karyahudan.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/karyahudan.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/karyahudan.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/karyahudan.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/karyahudan.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/karyahudan.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/karyahudan.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/karyahudan.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karyahudan.wordpress.com&amp;blog=3500435&amp;post=23&amp;subd=karyahudan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karyahudan.wordpress.com/2008/05/25/bahasa-yang-mencari-kata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99d8c1eef61bed870f7156c0c656ef16?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hudan Hidayat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Elit yang Mengolah Alam</title>
		<link>http://karyahudan.wordpress.com/2008/05/04/elit-yang-mengolah-alam/</link>
		<comments>http://karyahudan.wordpress.com/2008/05/04/elit-yang-mengolah-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 May 2008 15:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hudan Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karyahudan.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Tragedi bangsa Indonesia sebagai negara yang mempunyai kekayaan alam yang melimpah, adalah abainya kebijakan negara yang membuat segenap warganya berpikir obsesif, bahwa untuk menjadi kaya dan sejahtera haruslah mengolah kekayaan alamnya dengan tangannya sendiri. Sehingga kita membangun dan tumbuh bukan semata berdasar pengetahuan (tehnologi) dan bantuan orang lain, tapi bertumpu dengan modalnya sendiri. Yakni sumber [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karyahudan.wordpress.com&amp;blog=3500435&amp;post=19&amp;subd=karyahudan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tragedi bangsa <span class="yshortcuts"><span style="cursor:pointer;background-attachment:scroll;">Indonesia</span></span> sebagai negara yang mempunyai kekayaan alam yang melimpah, adalah abainya kebijakan negara yang membuat segenap warganya berpikir obsesif, bahwa untuk menjadi kaya dan sejahtera haruslah mengolah kekayaan alamnya dengan tangannya sendiri. Sehingga kita membangun dan tumbuh bukan semata berdasar pengetahuan (tehnologi) dan bantuan orang lain, tapi bertumpu dengan modalnya sendiri. Yakni sumber daya manusia <span class="yshortcuts"><span style="cursor:pointer;background-attachment:scroll;">Indonesia</span></span> yang mengolah alamnya yang kaya raya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Abainya kebijakan ini terbaca dari tiadanya policy dengan strategi pertumbuhan yang berkait dengan sistem persekolahan sebagai penopang yang menghasilkan sumber daya manusia untuk mengolah sumber daya alamnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ini berimplikasi pada sekolah-sekolah kita yang tumbuh dan berkembang bukan sebagai sebuah sistem dari kehidupan intelektual yang menghayati kenyataan hidup, yang lalu menghasilkan pengetahuan dan tehnologi yang membawa anak didiknya berorientasi mengelola alam dimana mereka tinggal. Kurikulum serta contoh saat peroses pendidikan itu berlangsung, menjauh dari kenyataan kehidupan di mana sang anak berada. Bahkan menjauhkan anak dari desa dan melemparkan mereka ke kota.<span id="more-19"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kita bisa “menghitung”<span> hanya ada satu “Institut Tehlogi</span> <span class="yshortcuts"><span style="cursor:pointer;">Bandung</span></span>” ketimbang ribuan perguruan tinggi yang alpa kepada orientasi pengelolaan kekayaan alam. Hanya ada satu SPMA ketimbang ribuan Sekolah Menengah Atas lainnya. Hanya ada satu Sekolah Tehnik ketimbang ribuan Sekolah Menengah Pertama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam perbandingan yang ekstrem itu, sistem persekolahan yang dipompakan puluhan tahun telah membuat bangsa kita kehilangan arah esensial untuk meraih kekayaan dan kesejahteraan. Sebab apresiasi terhadap pekerjaan bukan atas dasar apa yang telah terberi dan kita miliki. Yakni kekayaan alam. Tapi atas dasar undangan dari ilmu-ilmu lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Maka kita saksikan perbandingan yang timpang dari tokoh-tokoh kita di segala bidang kehidupan. Kita mempunyai secara berlimpah tokoh yang mampu memproduk wacana kemanusiaan, tapi miskin tokoh yang mampu memproduk wacana dengan perangkat pengetahuan dan tehnologi untuk mengolah kekayaan alam. Akibatnya kekayaan alam kita terus terbengkalai. Hanya dihuni oleh ibu bapa-kita yang mengelola alam secara tradisional, tanpa sentuhan tokoh-tokoh yang memiliki pengetahuan dan tehnologi sebagai produk dari sebuah sistem persekolahan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kegagalan terbesar dari abainya negara menciptakan sekolah dan hidup yang berorientasi kepada alam, adalah kenyataan pahit yang harus kita terima saat ini, akan pengertian bangsa kita terhadap makna bekerja.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bukan hanya elit kita yang gagal memaknai pengertian bekerja, dalam persepktif modal yang kita miliki, dan bagaimana menyeimbangkan langkah proporsional yang dibutuhkan untuk menggerakkan modal agar menjadi kekayaan yang mensejahterakan melalui sistem persekolahan, tapi sudah meruyak kepada segenap bangsa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Manusia <span class="yshortcuts"><span style="cursor:pointer;">Indonesia</span></span> saat ini sudah jauh sekali dari pikiran untuk mengolah alamnya sendiri, sebagai jalan keluar yang nyata untuk melangsungkan kehidupan. Ini terjadi bukan hanya karena tiadanya pengetahuan dan tehnologi yang mereka dapatkan dari sekolah, dari perusahan tempat mereka bekerja, atau program-program yang dibuat oleh pemerintah, tapi terlebih karena memang orientasi seperti itu memang tidak pernah dipompakan oleh sistem sekolah dan cara hidup di masyarakat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Janggal rasanya, di ruang-ruang entah seminar, kampus, lembaga penelitian, LSM, muktamar, kongres, bahkan di ruang-rapat pemerintahan sekalipun, kita mendengar seorang tokoh yang menguraikan pentingnya pengetahuan akan alam kita sendiri, lalu merancang pendidikan dengan sistem riset pada suatu daerah tertentu atau komoditi tertentu. Atau merancang strategi budaya bagaimana menggerakkan sebuah komunitas masyarakat di daerah tertentu untuk mempunyai kesadaran bersama dan merumuskan langkah bersama agar mengolah alamnya, sebagai langkah untuk meraih kekayaan dan kesejahteraan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bahkan kaum muda yang dimitoskan sebagai lapisan idealis, yang profesional maupun mereka yang tergabung dalam dunia ilmu, politik atau LSM, tak menjadikan “mengolah alam”<span> sebagai sebuah orientasi bagi</span> bangsa yang membutuhkan jalan keluar paling realistis, dari krisis yang menderanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kerja bagi mereka, bukanlah bagaimana menghasilkan dari tanah-tanah yang subur itu menjadi biji-bijian yang bisa kita makan, atau kita ekspor. Tapi sesuatu yang abstrak: mereka yang bergelut di bidang sosial politik telah menganggap bekerja, apa bila telah berhasil menyelenggarakan perhelatan besar, atau merumuskan pokok pikiran yang, konon, demikian dimitoskan, sebagai alternatif jawaban dari krisis yang menimpa bangsanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kerja bagi mereka, entah disadari entah tidak, adalah terbawa gelombang dari arus elit politik negeri ini, yang sejak awal mulanya berdiri, telah abai membuat kebijakan hidup untuk mengolah alam, yang terrepsentasi dari institusi pendidikan dengan riset sebagai sarana untuk mengolah alam. Ke alamat semacam ini bisa pula diarahkan kritik terhadap program televisi seperti Republik Mimpi, Save Our Nation atau Soegeng Suryadi Forum.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Situasi kolonial bisa menjadi titik perhitungan kita kembali. Sebagai negeri jajahan, sangatlah wajar bila elit politik pada waktu itu memfokuskan diri bagaimana bisa menjadi negara yang merdeka. Bahkan pada era Orde Lama pun, tarik-menarik politik dalam mengkristalkan perasaan kebangsaan yang masih muda, dengan bayang-bayang negara adi-daya yang bertarung secara vis-a-vis saat itu, masih pulalah bisa diterima alpanya kita menciptakan sumber daya manusia yang bisa mengolah alam melalui sekolahnya sendiri.</p>
<p>Tapi kemudian dengan Orde Baru, dan terutama dengan Orde Reformasi yang sangat amat terbuka, mengapa kebijakan untuk membuat sekolah atau hidup yang mengolah alam <span class="yshortcuts"><span style="cursor:pointer;">Indonesia</span></span> masih juga belum tercipta? Bahkan konsepnya sebagai sebuah wacana yang ditawarkan tidak juga muncul. Padahal hanya dengan mengolah kekayaan alam dengan tangan kita sendiri, kita bisa menjadi mandiri, kaya dan sejahtera sebagai sebuah bangsa.</p>
<p>Kini bangsa <span class="yshortcuts"><span style="cursor:pointer;">Indonesia</span></span> dibingungkan oleh dua impian bersama. Yakni mencari sosok pemimpin yang bisa membawa bangsanya keluar dari masalah yang sedang kita hadapi, dan sekaligus bekerja untuk meraih kekayaan dan kesejahteraan bagi seluruh bangsa <span class="yshortcuts"><span style="cursor:pointer;">Indonesia</span></span>.</p>
<p>Agaknya dua impian itu bisa dimulai dari renungan akan modal kita sendiri. Yakni kekayaan alam kita dan sumber daya manusia kita. Pada elit atau manusia terdidik <span class="yshortcuts"><span style="cursor:pointer;">Indonesia</span></span> di mana pun mereka berada, yang memimpin dan terutama yang ingin menjadi pemimpin, bisa kita alamatkan beban itu. Yakni sejauh mana kesungguhan mereka mau memasuki alam pikiran untuk mengajak bangsanya mengolah kekayaan alamnya, dengan menciptakan sekolah dan cara hidup yang berorientasi pada pengelolaan akan kekayaan alam.</p>
<p>Kesungguhan itu akan terlihat dari pikiran, apakah ada kemauan yang bisa kita amati bersama untuk mewacanakan transformasi dari sekolah-sekolah kita saat ini dan cara hidup kita saat ini, ke dalam suatu proporsi pengetahuan yang dibutuhkan untuk mengelola alam, dengan mempertimbangkan luas dan daerah dan besarnya jumlah penduduk. Sebuah transformasi yang akan berimplikasi kepada seluruh tatanan kehidupan, baik dari sudut tujuan pendidikan, regulasi, alokasi progam APBN, koordinasi antar departemen, sosialisasi serta mobilisasi masyarakat, yang akan membawa bangsa <span class="yshortcuts"><span style="cursor:pointer;">Indonesia</span></span> bertumbuh ke arah baru yang paling realistis dan berdaya tahan untuk masa depan.</p>
<p>Bila hanya wacana demokrasi dan perubahan yang abstrak, sambil mengusungnya ke dalam pertemuan massal yang bergerak dari suatu daerah ke daerah yang lain, agaknya impian kita terhadap pemimpin dan kepemimpinan yang bisa membawa perubahan ke arah kekayaan dan kesejahteraan bagi bangsanya melalui kekayaan alamnya sendiri, masih harus kita tunda dulu. Sampai datang tokoh dan pengikut-pengikutny a yang mampu melejit dari cara berpikir dan bertindak yang diperagakan oleh elit politik Indonesia yang telah membuat kita terpuruk seperti saat ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="yshortcuts"><span style="cursor:pointer;">Jakarta</span></span>, 4 april 2008</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p>(Hudan Hidayat)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/karyahudan.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/karyahudan.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/karyahudan.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/karyahudan.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/karyahudan.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/karyahudan.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/karyahudan.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/karyahudan.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/karyahudan.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/karyahudan.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/karyahudan.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/karyahudan.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/karyahudan.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/karyahudan.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/karyahudan.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/karyahudan.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karyahudan.wordpress.com&amp;blog=3500435&amp;post=19&amp;subd=karyahudan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karyahudan.wordpress.com/2008/05/04/elit-yang-mengolah-alam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99d8c1eef61bed870f7156c0c656ef16?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hudan Hidayat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Revolusi Diam Kaum Muda</title>
		<link>http://karyahudan.wordpress.com/2008/05/04/revolusi-diam-kaum-muda/</link>
		<comments>http://karyahudan.wordpress.com/2008/05/04/revolusi-diam-kaum-muda/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 May 2008 14:28:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hudan Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karyahudan.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah statemen tak bisa mengelak dari klaim. Seperti “sumpah kaum muda” adalah klaim akan rasa memiliki: Indonesia yang bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu. Dan klaim tak memerlukan referendum “diterima atau ditolak&#8221; bergantung isi statemennya sendiri. Teks “Proklamasi” dipuja rakyat Indonesia karena dengannya, mereka bebas dari belenggunya. Antara “Sumpah Pemuda” dan “Proklamasi”, ada ide yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karyahudan.wordpress.com&amp;blog=3500435&amp;post=17&amp;subd=karyahudan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sebuah statemen tak bisa mengelak dari klaim. Seperti “sumpah kaum muda” adalah klaim akan rasa memiliki: <span style="cursor:pointer;"><span class="yshortcuts">Indonesia</span></span> yang bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu. Dan klaim tak memerlukan referendum “diterima atau ditolak&#8221; bergantung isi statemennya sendiri. Teks “Proklamasi” dipuja rakyat <span style="cursor:pointer;"><span class="yshortcuts">Indonesia</span></span> karena dengannya, mereka bebas dari belenggunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Antara “Sumpah Pemuda” dan “Proklamasi”, ada ide yang berlanjut. “Sumpah” adalah upaya penyatuan, sedang “Proklamasi” adalah upaya pernyataan. Ke-Indonesia- an yang telah disatukan kini dinyatakan telah merdeka, tak terikat atau tunduk pada penjajahnya. Ia merdeka. Ia bebas.</p>
<p style="text-align:justify;">Dua teks di atas adalah karya “akbar kaum muda”. Akbar, karena ia berdaya mimpi dan berdaya inspirasi: mereka mengimajinasikan sesuatu yang belum ada, masih in absentia. Tetapi dengannya “in absentia” <span style="cursor:pointer;"><span class="yshortcuts">itu</span></span> mewujud.</p>
<p style="text-align:justify;"><span class="yshortcuts">Indonesia</span> telah jauh meninggalkan sejarah itu. <span id="more-17"></span>Masuk dalam globalisasi bercorak ilmu pengetahuan dan tehnologi, yang memproduksi jasa dan benda, isu dan wacana. Lokomotifnya adalah “neo-kapitalisme global. Dalam kancah ini, di manakah posisi <span style="cursor:pointer;"><span class="yshortcuts">Indonesia</span></span>? Mampukah ia memproduksi jasa dan benda, isu dan wacana? Atau ia hanya akan jadi konsumen? Dari kenyataan hidup sehari-hari, jawabnya sudah jelas sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejarah adalah sejarah kaumnya sendiri, dengan konteks dan masalahnya sendiri. Respon dan jalan keluarnya sendiri. Maka bagaimana kaum muda <span style="cursor:pointer;"><span class="yshortcuts">Indonesia</span></span> saat ini, menjawab sejarah hidupnya yang terkepung, dan dikepung, oleh corak global itu? Apakah pikiran mereka? Mampukah mereka keluar dengan mimpi dan inspirasi? Dapatkah mereka membuat imajinasi baru, meledakkannya dalam “statemen akbar” yang berdaya ubah? Sanggupkah mereka menemukan “kata dan kerja” in absentia?</p>
<p style="text-align:justify;">Sejarah kebudayaan dan peradaban, adalah kisah manusia yang mendayakan akalnya, melalui institusi “ilmu” yang mengubah alam menjadi benda dan jasa. Isu dan wacana. Juga darah dan air <span style="cursor:pointer;"><span class="yshortcuts">mata</span></span>. Tapi di Indonesia penangkapannya telah salah kaprah: ilmu itu, “tak diiringi” dengan “ilmu yang kita butuhkan”. Dan ini berkait dengan budaya, alam pikiran, cara pandang, akan kemajuan. Karenanya, meski sekolah, kampus, kursus, pelatihan, menjamur, tapi alam <span style="cursor:pointer;"><span class="yshortcuts">Indonesia</span></span> tak juga berubah: ia tetap potensi alam, yang menunggu jamahan tangan putera-puterinya. Kalau pun ada tangan-tangan yang menjamah, itu adalah tangan putera-puteri anak negeri lain. Jamahan yang membuat kita jadi objek: mereka mengeduk alam kita, sedang kita dapatkan ampasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini terjadi karena ilmu di Indonesia tidak menganak tehnologi, yang mampu mengubah alam menjadi benda dan jasa. Ilmu di Indonesia hanya ilmu yang mereproduksi “makna” &#8211; hubungan antar manusia, manusia dengan alamnya, atau manusia dengan pemerintahnya. Bila kita berjalan ke toko buku, terlihatlah ilmu yang menjual makna itu: buku filsafat, politik, hukum, novel, yang semuanya dilabeli “penting dan wajib dibaca”, terutama bagi mahasiswa atau pelajar. Padahal buku-buku <span style="cursor:pointer;"><span class="yshortcuts">itu</span></span>, tak pernah bisa mengubah alam, mengubah padi jadi nasi. Demikian juga liputan media massa. Hampir sebagian besar tayangan media massa mengumbar “kegenitan” soal makna. Soal yang abstrak. Memang ada sandarannya: pemerintah, atau negara, dalam tata hubungan dengan rakyatnya. Tapi segala kesibukan itu hanya berhenti pada reproduksi “makna”. Sekali lagi: tak pernah bisa mengubah alam menjadi benda dan jasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Segala kesibukan itu akhirnya seolah menjadi kebenaran. Kaum muda merasa sudah bekerja, bila terlibat dalam rangkaian panjang produksi makna ini. Dan karena bekerja, maka tak ada rasa salah sama sekali. Begitulah mereka suka berderap ke DPR, Gedung Bundar Kejaksaan Agung, atau menghujat mantan Presiden Suharto. Atau beramai-ramai dalam ruang seminar, diskusi, ratusan Munas yang terjebak hanya dalam pemilihan Ketua dan semacamnya. Semua itu kerja. Semua itu seolah jalan penyelamatan. Padahal jalan penyelamatan adalah bagaimana mengubah alam â€“ alam <span style="cursor:pointer;"><span class="yshortcuts">Indonesia</span></span>. Apa boleh buat, kesadaran mengubah alam sebagai hakekat kerja, terbenam dalam kemilauan makna yang disokong oleh publisitas media massa. Ilmu dan budaya kerja, telah meleset dari tangan kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka apakah budaya kerja? Budaya kerja adalah sikap mental untuk mencari ilmu yang menganak tehnologi. Etos yang merelakan diri untuk melepas kegiatan fisik, bila karenanya akan menghambat pencarian ilmu. Tapi dalam ilmu, mesti ada keseimbangan antara ilmu yang menganak tehnologi, dengan ilmu yang menganak makna. Untuk konteks <span style="cursor:pointer;"><span class="yshortcuts">Indonesia</span></span> kini, dalam porsi 9 banding 1. Biarlah kita memiliki segelintir filsuf, ahli humaniora, pakar politik dan hukum, jago ilmu ekonomi, atau sebiji novelis. Tapi sisanya masuk ke dalam penciptaan benda dan jasa. Biarlah forum-forum kita kosong melompong, karena ditinggalkan kaum muda yang masuk ke loboratorium, yang sepi dan jauh dari tepuk tangan. Tapi dari sepetak tempat sepi ini, alam dan lingkungan kita akan berubah. Bila padi ditanam menghasil sekaleng, maka laboratorium membuatnya jadi seton. Bila ikan ditangkap sekilo, maka laboratorium membuatnya “seperahu penuh ikan”.</p>
<p style="text-align:justify;">Laboratorium akan membuat panen-panen kita naik secara signifikan. Membuat kita mengeduk hasil bumi secara proporsional. Membuat produk budaya atau olahraga menjadi industri. Memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dan ekspor untuk devisa. Eskpor dan devisa? Ya. Inilah jalan yang mesti ditempuh. Jalan yang akan mengayakan sebuah bangsa.</p>
<p>Maka kesinilah orientasi “Revolusi Kaum Muda”, sebuah revolusi diam dengan beban ganda: di satu pihak melakukan revolusi terhadap budaya kerja, di lain pihak melakukan revolusi dengan mencari ilmu yang menganak tehnologi pengubah alam. Inilah daerah atau kawasan in absentia kaum muda kini.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah wujud praktis dari “Revolusi Diam Kaum Muda” ini? Adalah perlawanan yang datang dari kesadaran bahwa perubahan adalah hak. Manakala hak ini luput, atau lambat direspon oleh penguasa, maka kaum muda tampil merebut haknya. Mereka tidak tergantung lagi pada penguasa. Tapi memilih nasibnya sendiri. Menyatakan keinginan mereka sendiri. Tamat SMA tidak berderap ke fakultas politik, ekonomi, hukum, sosiologi, atau filsafat. Tapi berbondong ke “IPB” atau “ITB”. Tapi sekolah-sekolah semacam ini bisa dihitung dengan jari. Justru itulah soalnya: dengan tidak mau masuk ke sekolah “pencipta makna”, otomatis ada gelombang besar anak muda yang tertahan di tempatnya. Gelombang yang menciptakan “Revolusi Diam Kaum Muda”. Revolusi yang tidak dinyatakan dengan gerak fisik. Tapi revolusi sikap mental dengan gerak diam menunggu. Kita tahu, pemerintah tidak punya sekolah yang menampung revolusi diam itu. Tapi gelombang ini akan memaksa mereka berpikir, mencari jalan, dan akhirnya akan “membubarkan, memproporsionalkan”, sekolah-sekolah yang ada, dengan <span> </span>memetamorfosakannya ke sekolah-sekolah pencipta benda dan jasa. Sampai terjadi proporsi yang wajar, antara kedua kubu sekolah itu, yaitu 9 berbanding 1. Hasilnya: kita memiliki seorang jago politik, tapi 9 orang jago mengubah kekayaan alam.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, di tangan kaum muda <span style="cursor:pointer;"><span class="yshortcuts">Indonesia</span></span> kini, ada tiga “teks akbar”, teks yang mampu membangkitkan <span style="cursor:pointer;"><span class="yshortcuts">batang</span></span> terendam, demi cita-cita kemajuan dan kemerdekaan Indonesia. Yaitu “Sumpah Pemuda”, “Proklamasi”, dan “Tehnologi Pencipta Benda dan Jasa”. Duhai kaum muda, carilah narasi “teks ketiga” ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak percaya?</p>
<p style="text-align:justify;">Cobalah tempuh jalan ini sesekali. Sebelum kamu “mati”.</p>
<p style="text-align:justify;">(Hudan Hidayat)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/karyahudan.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/karyahudan.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/karyahudan.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/karyahudan.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/karyahudan.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/karyahudan.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/karyahudan.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/karyahudan.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/karyahudan.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/karyahudan.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/karyahudan.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/karyahudan.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/karyahudan.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/karyahudan.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/karyahudan.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/karyahudan.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karyahudan.wordpress.com&amp;blog=3500435&amp;post=17&amp;subd=karyahudan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karyahudan.wordpress.com/2008/05/04/revolusi-diam-kaum-muda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99d8c1eef61bed870f7156c0c656ef16?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hudan Hidayat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Letupan Hati Seorang Feminis</title>
		<link>http://karyahudan.wordpress.com/2008/05/02/letupan-hati-seorang-feminis-2/</link>
		<comments>http://karyahudan.wordpress.com/2008/05/02/letupan-hati-seorang-feminis-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 10:53:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hudan Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karyahudan.wordpress.com/2008/05/14/letupan-hati-seorang-feminis-2/</guid>
		<description><![CDATA[Carolina, Cerpen &#8220;tradisional&#8221; bertaruh dengan plot yang mengusung watak dan konflik, suasana dan pastilah bahasa juga. Tapi cerpen &#8220;modern&#8221; apalagi &#8220;postmodern&#8221;, tidaklah terantai dengan semua unsur-unsur fiksi itu. Karena fiksi itu, seperti kerja lamunanmu itu sendiri: bisa mengimajinasikan sebuah bintang, yang kamu harapkan jatuh di depan kakimu. Semangat yang berkobar ke dalam pilihan diksi dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karyahudan.wordpress.com&amp;blog=3500435&amp;post=22&amp;subd=karyahudan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://olinmonteiro.multiply.com/journal/item/37/ketemu_bintang_jatuh">Carolina,</a>
<p><a href="http://olinmonteiro.multiply.com/journal/item/37/ketemu_bintang_jatuh"><img height="168" alt="" src="http://karyahudan.files.wordpress.com/2008/05/may-photos-mfi-apsas-111_1_1.jpg?w=300&#038;h=168" width="300" align="left"></a>Cerpen &#8220;tradisional&#8221; bertaruh dengan plot yang mengusung watak dan konflik, suasana dan pastilah bahasa juga. Tapi cerpen &#8220;modern&#8221; apalagi &#8220;postmodern&#8221;, tidaklah terantai dengan semua unsur-unsur fiksi itu. Karena fiksi itu, seperti kerja lamunanmu itu sendiri: bisa mengimajinasikan sebuah bintang, yang kamu harapkan jatuh di depan kakimu.
<p>Semangat yang berkobar ke dalam pilihan diksi dalam bahasa prosamu yang mengusung rakya jelata dengan konteks sebuah daerah (Kupang) yang kau kenal dan karena itu familiar, adalah kekuatan dari cerpen monologmu ini.
<p>Sahkah?
<p>Mengapa tidak?
<p>Justru kekuatan <a href="http://olinmonteiro.multiply.com/journal/item/37/ketemu_bintang_jatuh">cerpen seperti </a>itu, adalah bagaimana dan bisakah dia menarik pembaca ke dalam renungannya – menariknya dari awal sampai akhir.
<p>Saya tidak melihat kelelahan kamu bercerita di sana. Justru saya melihat banyak ruang kosong yang kamu masih bisa ekspose ke dalam keliaran imajinasi yang nampaknya akan menjadi kekuatanmu dalam menulis prosa.
<p>Misalnya saat cerpen memasuki renungan:</p>
<p><span id="more-22"></span>
<p>&#8220;Seberapa jauhkah perjalanan sebelum menabrak atmosfir bolong bumi kami ini? Apakah memang ada kehidupan lainnya? Apakah nafas kehidupan di &#8216;ruang semesta&#8217; sana persis beroksigen seperti kami, atau seperti apa?&#8221;<img alt="" src="http://karyahudan.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce-134/plugins/wordpress/img/trans.gif">
<p>Alangkah asyiknya kalau kau bernakal-nakal di sini – memberikan sentuhan humor. Sehingga pembaca dibawa berayun, dari tegangnya nasib orang miskin ke sisi-sisi lucu dari manusia pada umumnya.
<p>Ayunan seperti itu tentu membuat cerpenmu seolah kehilangan unsur &#8220;dramatik sprint&#8221; yang terbaca oleh saya.
<p>Memang benar. Tetapi dengan begitu ia pastilah akan menjadi lebih kaya. Dan terutama: dengan mengangkatnya pada variasai alam, manusia, alam, maka akan nampaklah bahwa manusia dan alam itu adalah sebuah noktah kecil di tengah keluasan semesta.
<p>Sehingga saya sebagai pembaca seolah berada di tengah rayuan daun-daun padi yang tertiup angin, merasakan ruap tanah dan matahari di Kupang karena ilustrasi yang kamu tuliskan. Atau saya bisa menyimak betapa bintang itu benar-benar jatuh dan kau menceritakan proses kejatuhannya dengan lucu dan dramatis.
<p>Dengan kontras seperti itu, cerpenmu menjadi menerobos gejala (orang miskin) dan (bintang jatuh &#8211; alam). Sehingga cerpen mengalami metamorfosa. Sehingga kita bisa mengelus dada tentang nasib manusia tanpa rasa dendam (yang kau sebut kekecualian itu). Sehingga nampak makin besarlah status manusia itu sebagai mahluk berperadaban di bumi.
<p>Tapi jangan salah mengerti: cerpenmu berhasil sekali menggelorakan pembacanya untuk bersimpati, untuk marah.
<p>Tapi kan setelah simpati dan marah, lalu apa yang tersisa?
<p>Pastilah kita harus memeluk sebuah nilai yang menjadi keyakinan untuk kita melanjutkan hidup.
<p>Nah, nilai semacam itu akan datang dari sebuah cerita yang &#8220;diangkat&#8221;, ditransendir ke arah, tak perlu ketuhanan, tapi mungkin misteri alam atau misteri kehidupan itu sendiri.<br />Saya selaku pembaca menginginkan pernik-pernik cerita lucu tentang anakmu. Sebelas bulan pastilah sedang lucu-lucunya. Dengan sebuah cerita tentang gerak bibir atau matanya, atau kulitnya yang kemerahan, saya bisa membayangkan sebuah bayi montok.
<p>Akan lebih sedap lagi kalau tokoh &#8216;aku&#8221; dalam cerita itu membiarkan anaknya menyusu pada ibunya. Pastilah akan menambah hempasan kesan betapa kekuasaan yang jalang mesti terjerembab di hadapan kefitrian kisah ibu dan anak semacam itu.
<p>Begitu pula dengan lelaki yang kau sebutkan dengan &#8220;kekasihmu&#8221; itu, terbuka untuk diceritakan.
<p>Tetapi dengan demikian cerpen menjadi, atau menempuh, arah lain yang panjang sekali.<br />Tak mengapa. Justru di situlah keindahan sebuah prosa: adalah saat kau memberi bentuk ke dalam cerita (bisa memakai plot bisa pula hanya renungan seperti ceritamu ini) pikiran dan perasaanmu sebagai mahluk yang terlempar ke bumi.
<p>Seandainya bintang itu &#8220;benar-benar jatuh&#8221; di dalam ceritamu, wah, itulah saatnya kita mengalami dongeng modern yang dikisahkan oleh seorang feminis.
<p>Satu hal yang akan selalu terekam setiap aku membaca ceritamu kelak: empatimu pada manusia dan kecepatanmu bercerita yang seolah senjata otomatis yang pelurunya menghujam tak henti-henti, ke ulu hatiku.
<p>Sebuah cerita adalah saat &#8220;tokoh&#8221; hidup di hadapan kita. Tokoh ceritamu hidup di dalam &#8220;narator&#8221;, &#8220;Aku&#8221;, dan kamu mempunyai peluang menghidupkan tokoh itu sendiri. Membiarkan sang &#8220;Soe&#8221; itu, misalnya, menceritakan sendiri akan kepedihan hidupnya.
<p>Bahwa dirinya sudah mirip budak dari keluarganya yang datang dari struktur partiarkal yang memang timpang. Tentu tidak ada salahnya cerita yang hidup dalam diri sang narator semata. Tapi tidak ada salahnya pula kalau sang pengarang membagi ceritanya kepada sang Aku – Soe, dalam ceritamu yang amat memikat ini.
<p>Sehingga ia menjadi mirip alam yang berlapis-lapis ini. Menyuarakan banyak suara seperti soal-soal dalam hidup kita.
<p>Aha aha.
<p>Jakarta, 27 April 2008
<p>(Hudan Hidayat)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/karyahudan.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/karyahudan.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/karyahudan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/karyahudan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/karyahudan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/karyahudan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/karyahudan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/karyahudan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/karyahudan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/karyahudan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/karyahudan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/karyahudan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/karyahudan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/karyahudan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/karyahudan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/karyahudan.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karyahudan.wordpress.com&amp;blog=3500435&amp;post=22&amp;subd=karyahudan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karyahudan.wordpress.com/2008/05/02/letupan-hati-seorang-feminis-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99d8c1eef61bed870f7156c0c656ef16?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hudan Hidayat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://karyahudan.files.wordpress.com/2008/05/may-photos-mfi-apsas-111_1_1.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://karyahudan.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce-134/plugins/wordpress/img/trans.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>“Politik Sastra” Versus “Politik Tekstual Sastra”</title>
		<link>http://karyahudan.wordpress.com/2008/04/28/%e2%80%9cpolitik-sastra%e2%80%9d-versus-%e2%80%9cpolitik-tekstual-sastra%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://karyahudan.wordpress.com/2008/04/28/%e2%80%9cpolitik-sastra%e2%80%9d-versus-%e2%80%9cpolitik-tekstual-sastra%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 05:10:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hudan Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[politik sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karyahudan.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[“Politik tekstual sastra” sangat berbeda dengan “politik sastra”, “sebagaimana jaringan urat dan daging dalam tubuh”. Perbedaan yang telah dilompati oleh Tuan Edy A Effendi. Lompatan semacam ini, adalah kehendak untuk mencampur dan mengabur fenomena hidup. Feminisme sebagai fenomena kehidupan, membawa wacana peran perempuan dan peran lelaki. Tapi, saat Simone De Beauvoir pandang-memandang dengan dunia dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karyahudan.wordpress.com&amp;blog=3500435&amp;post=13&amp;subd=karyahudan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Politik tekstual sastra” sangat berbeda dengan “politik sastra”, “sebagaimana jaringan urat dan daging dalam tubuh”. Perbedaan yang telah dilompati oleh Tuan Edy A Effendi. Lompatan semacam ini, adalah kehendak untuk mencampur dan mengabur fenomena hidup.</p>
<p>Feminisme sebagai fenomena kehidupan, membawa wacana peran perempuan dan peran lelaki. Tapi, saat Simone De Beauvoir pandang-memandang dengan dunia dan mulai menuliskan bukunya Second Sex, bukanlah “politik tubuh” tapi “politik tekstual tubuh”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Upayanya membongkar konstruksi budaya patriarkal yang bukan dalam arti gerakan, adalah investigasi sejarah yang mengikutkan ceruk-meruk pikiran, tentang hakekat tubuh perempuan dan tubuh lelaki.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Politik tekstual tubuh” ini baru menjadi “politik tubuh”, saat seorang Gadis Arivia di Indonesia mendirikan Jurnal Perempuan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mengapa “politik tubuh” dengan prinsip kebenaran diperlukan?<span id="more-13"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Karena hampir mustahil mengantarkan “politik tekstual tubuh” kehadapan publik tanpa medium institusi. Dan apakah maksud kedua tokoh yang berlainan ruang dan waktu ini, dengan “politik tubuh” dan “politik tekstual tubuh”, kalau bukan didorong oleh hasrat untuk menunjukkan dan menggapai keberagaman eksistensi, demi kesetaraan dan keadilan itu sendiri?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kita bisa tak sepakat dengan argumen Simone De Beauvoir, saat ia melacak tubuh dalam varian species. Misalnya, saya belum diyakinkan oleh kategori “takdir” yang menjadi sub-judul bukunya. Bagi saya kata-kata “takdir” merujuk kepada yang transendental. Tapi bagi Simon, kata “takdirâ€™ hanya berhenti pada “data biologis” beragamnya species.</p>
<p>Tapi dengan begitu, pelacakan terhadap hakekat peran tubuh perempuan dan lelaki telah terhenti. Sebab, awal dari spirit De Beauvoir, adalah untuk mengejar mula pertama dari, atau bagi, kesetaraan yang menjadi medan perjuangan kaum perempuan terhadap dominasi dan ragam laku lelaki?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Eksposenya yang amat indah itu (saya terkenang keindahan Frued saat ia menuliskan psikoanalisa) , tidak menjawab siapakah manusia lelaki pertama dan manusia perempuan pertama, dan bagaimana corak mengada kedua manusia yang berbeda jenis kelamin ini?</p>
<p>Kalau “data biologis” De Beauvoir tidak menemukan jawaban atas kemungkinan instinktif yang terbawa oleh gen, maka sebuah embrio patriakal pastilah bermula dari interaksi manusia lelaki pertama dan manusia perempuan pertama, yang tentu saja berkembang dan meluas pada lingkungan awalnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebab, konstruksi kebudayaan patriarkal yang kita kenal kini, adalah turunan belaka dari lingkungan awal yang berkembang dan meluas itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tapi, kapan mulainya dan di mana awalnya?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Adalah “politik tubuh” yang mengantarkan “tubuh” menjadi kristal, dan “politik tekstual tubuh” yang membuat unsur kristal berbinar. Persis seperti “tubuh malam” yang menggelar dirinya, tapi kunang-kunang malam yang membuat mata bisa memandang keelokannya. Atau politik negara yang mengantarkan kesejahteraan bagi rakyatnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tuan Edy A Effendi dalam postingnya, bolak-balik menggunakan pemakaian antara “politik sastra” dan “politik tekstual sastra” yang bercampur, seraya hendak menarik saya pada, atau mengingatkan peran akan, niat untuk membongkar “politik sastra”. Bahwa sejarah sastra 13 tahun terakhir melibatkan saya dalam peran semacam itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tapi Tuan Edy lupa, bahwa statemen itu ditempatkan bukan sebagai pernyataan terpisah tapi bersambung. Yakni: ketertarikan saya akan “politik tekstual sastra”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam sambungan semacam itu, kata “tidak ada niat” itu harus ditempatkan. Sebab hanya berhenti pada membongkar “politik sastra”, maka tubuh yang bercahaya itu akan kehilangan peluang untuk menguakkan unsurnya (tubuh yang indah, kata Dewi). Ia hanya akan berhenti pada peristiwa. Berhenti pada “politik tubuh”. Pada “politik sastra”. Ini sama dengan dunia tanpa tujuan. Atau manusia berjalan tanpa tahu mengapa langkahnya gontai.</p>
<p>“Politik tubuh” atau “politik sastra” yang signifikan, hadir puluhan tahun silam saat seorang penyair menerbitkan bukunya. Tapi substansi buku itu bukan lagi menjadi “politik sastra” atau peristiwa sastra yang dimaksud Tuan Edy, tapi telah menjadi “politik tekstual sastra”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Begitulah saya membaca ketika seorang penyair Sutardji calzoum Bachri dengan radikal dan konsisten menggeluti temanya dalam bukunya O Amuk Kapak. Sebutan radikal dan konsisten, bagi sang seniman, adalah kesetiaannya menggeluti tema bahwa ia mencari kedalaman dengan temanya, bahwa ia konsisten dengan upaya terhadap temanya itu.</p>
<p>Seorang seniman bukanlah terutama seseorang yang menasbihkan dirinya sebagai pembongkar “politik sastra”. Dia bukanlah seorang politisi sastra (seperti diterminologikan pada dirinya sendiri oleh Saut Situmorang). Tapi seorang yang dipukau oleh isi sastra itu sendiri. Dipukau oleh dunia ini sendiri. Persis seperti anak kecil yang terpesona memandang keluasan alam. Atau seseorang takjub ketika benda abstrak (pikiran) bisa menghasilkan benda konkret (grafis huruf).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mengapa saya gemar membaca Sutardji?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Karena pada penyair ini, kata radikal dan konsisten yang didambakan Tuan Edy, bekerja dengan intensitas yang tiada terkira.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Adalah salah, kalau karena ketertarikan saya, lalu seseorang memandang bahwa itu adalah upaya seorang Hudan untuk membongkar seorang Sutardji dalam aspek “politik sastra” dan “politik tekstual sastra”nya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Seorang sutardji tidak melakukan “politik sastra” (kecuali mungkin perannya sebagai aktor intelektual di dalam “pengadilan puisi” di Bandung itu). Tapi melakukan habis-habisan “politik tekstual sastra”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Politik tekstual sastra” Sutardji, bekerja dalam dua bidang secara simultan. Bidang yang saling menopang sekaligus saling menjauhi. Kata yang hendak dilepaskannya dari makna, adalah sebuah tindakan revolusioner dalam dunia sastra Indonesia modern. Di saat sastrawan angkatan 45 dan 66 masih berkelindan dengan derap dan arus revolusi, yang meninggalkan jejaknya pada penciptaan realis, maka Sutardji terbang dan menebang langit dengan kapaknya meminjam esai Mariana tentang Sutardji. Apakah yang ditebang Sutardji?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebuah langit sebagai benda alam?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tapi Sutardji menebang juga konvensi bersastra di negeri kita. Dengan melepaskan fungsi makna dari kata, Tardji bukanlah sebagaimana disebutkan Ignas Kleden sebagai, atau hanyalah, sebuah strategi literer yang hanya bisa dirujukkan pada semangat penciptaan, sehingga tidak perlu dikejar maksudnya dalam bingkai common sense.</p>
<p>Sebab cara pandang seperti ini, seolah meledek upaya pencarian Sutardji, seolah tak akan sampai upaya seperti itu. Atau di bidang prosa, seolah menggaung kembali kata-kata resah Iwan Simatupang: Hans (HB. Jassin), dapatkah kita melewati ambang yang tak terkatakan itu?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tapi “politik tekstual sastra” Tarji benar-benar memberikan cara pandang lain. Bukan hanya bertarung dengan konvensi sastra yang melingkupinya. Tapi terutama bertarung dengan gagasan sastranya sendiri. “Politik tekstual sastra” itu akhirnya harus berhadapan dengan dirinya sendiri sebagai penyair.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dan itu dimulai dari kredonya yang amat terkenal itu: kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Segera muncul: kalau kata bukan alat maka ia hanya pengertian belaka. Tapi dapatkah ada pengertian tanpa adanya kesadaran? Dan apalah artinya kesadaran tanpa medium bagi seorang penyair atau novelis. Dan medium itu adalah kata. Dan pada mulanya kata adalah titik yang ditarik menjadi garis lurus, yang berkelok menjadi huruf.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Karena pengertian adalah kesadaran, maka kita dapati makna yang terurai pada puncak-puncak yang ditunjukkan Sutardji sendiri dalam puisinya, sebagai “alat” bagi pengertian Sutardji dan pembaca puisi Sutardji.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kata memang bukan alat (belaka) untuk mengantarkan makna. Tapi kata menjadi medium bagi kesadaran jiwa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tesis inilah yang saya pilih saat menuliskan “kredo seni di atas kredo puisi”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ketika kata menjadi bebas, kebebasannya bukanlah terbang dan menebang semata semantik, menceraikan dirinya sehingga tak terjejah lagi. Kata bebas dan terbang untuk mencari kata-kata lain yang kiranya cocok untuk dayanya sendiri. Yang membuat kreatif, kata Tardji.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tapi tetap: kata yang terbang dan menebang itu, adalah dan hanyalah benda mati tanpa kesadaran. Pengertian pun adalah benda mati tanpa kesadaran. Persis seperti Tuhan adalah nothing tanpa dunia dan manusia. Atau Tuhan menjadi nothing tanpa diriNya. Sebab tiap kesadaran membutuhkan ruang, seperti roh membutuhkan tubuh sebagai ruang.</p>
<p>Karena itu Tuhan menubuh pada dunia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Atau roh menubuh pada badan manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dan kesadaran menubuh pada kata-kata.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dengan lain perkataan, kata memang adalah medium untuk mengantarkan pengertian. Tapi pengertian kreatif, yang menjauh dari pengertian sehari-hari dalam maknanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Di sinilah titik pisah antara “kredo seni di atas kredo puisi”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Begitulah saya menemukan kreatifitas “menceraikan” kata ini, atau kata-kata yang bebas itu, bukan terutama pada sajak “hampa nilai” yang diajukan Ignas Kleden (ping di atas pong). Tapi juga pada permainan penceraian tipografi yang berakibat pada pengubahan makna yang sampai pada kita.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam sebuah kajiannya yang sangat bagus tentang Sutardji (tapi kapan Ignas akan menulis sebuah buku tanpa diundang? Dan inilah poltik sastra itu!) yang dimuat dalam harian Kompas (Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji Calzoum Bachri), Ignas menunjukkan kontradiksi pikirannya sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bagi saya, demikian Ignas, pemikiran-pemikiran dalam Kredo Puisi menjadi menarik bukan dalam kedudukannya sebagai suatu teori tentang puisi, tetapi terutama sebagai rencana kerja seorang penyair. Kredo itu membuat kita terkesan dan mungkin terkejut, bukan karena argumen-argumen yang diajukannya mengenai sense dan nonsense, tetapi dia menjadi menarik sebagai suatu program, suatu desain, dan bahkan suatu tekad. Â»</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Harga dan nilai kredo tersebut tidak selayaknya diukur berdasarkan konsistensi dalil-dalilnya, tapi terutama berdasarkan pertanyaan: apakah penyairnya sanggup mewujdukan apa yang telah dia deklarasikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Perhatikanlah kekaguman seorang Ignas akan Sutardji yang membawa serta perlawanan bawah sadarnya â€“ daya kreatif Ignas. Sebuah kontradiksi diletakkan Ignas: bukankah saat saat sang penyair sanggup mewujudkan apa yang telah dideklarasikannya, adalah pemenuhan bagi konsistensi dalil-dalilnya?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Syang Hai yang dikutip Ignas bisa menjadi representasi bagi kreatifitas Sutardji memainkan kata. Juga melepaskan kata dari makna dan pengertiannya. Tapi hilangkanlah larik terakhir (sembilu jarakMu merancap nyaring), apakah Ignas masih mengatakan puisi itu seolah gumam seseorang yang berzikir menyebut nama Tuhan? Tidakkah ia menjadi sebuah permainan kata yang memang unik dan kita rasakan keindahan penyebutan-penyebut annya, tapi menjadi sesuatu yang gelap dalam tingkat penafsiran: apakah ini? Apakah yang dikehendaki sang penyair dengan sebuah struktur kata yang mengingatkan saya pada sebuah olahraga di masa kecil: pingpong. Di mana kata berjatuhan dari bidang satu ke bidang yang lain, seolah bola putih yang kecil itu.</p>
<p>Ping di atas pong</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pong di atas ping</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ping ping bilang pong</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pong pong bilang ping</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mau pong? Bilang ping</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mau ping? Bilang pong</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mau mau bilang ping</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ya pong ya ping</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ya ping ya pong</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tak ya pong tak ya ping</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ya tak ping ya tak pong</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kutakpunya ping</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kutakpunya pong</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pinggir ping kumau pong</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tak tak bilang ping</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pinggir pong kumau ping</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tak tak bilang pong</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sembilu jarakMu merancap nyaring</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam sebuah sajak yang sarat humor (jadi tidak benar kalau sastra Indonesia, tegang dan kekurangan humor seperti kata Ayu Utami dalam kolomnya di sebuah media), Sutardji datang dengan “puisi prosa” tapi mengandung magis puisi: ikan membawa air dalam mulut taman, katanya. Sebuah larik yang mengejutkan : bagaimana mungkin seekor ikan membawa air (ke) dalam mulut taman? Pastilah air yang dibawanya itu tersimpan dalam mulutnya. Lalu ia keluarkan ke taman itu. Tapi permainan tipografi puisi menjelaskan bukan itu maknanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">ikan membawa air</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">dalam mulut</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">taman</p>
<p>Dengan membaca sajak ini dalam tipografinya, terlihat makna itu. Tapi pola larik itu diletakkan, juga pemakaian Â«tanda tanpa tandaÂ», membuat kita membaca puisi itu seolah prosa, sehingga kita sampai pada kesimpulan, atau sejenak kesimpulan itu terserap, pada pengasingan kata dengan misteri maknanya (seolah ikan itu membawa air dalam mulut taman).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sejauhnya saya ingin menghindar dari kategori Saut Situmorang, yang menempatkan sastra sebagai dunia kangou yang harus memakan kurban dengan jalan saling menumbangkan. Saya melihat sesuatu bekerja bukan sebagai penumbangan tapi sebagai “bagaimana cara memandang Â». Dunia ini memang tempat orang berpandang-pandanga n. Karena itu kalau saya membuat “kredo seni di atas kredo puisi”, bukanlah lalu saya meniatkan untuk menumbangkan Sutardji. Tapi melihat cara lain seperti cara lain yang dilihat Sutardji.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Atau kalau saya tidak bersetuju dengan pandangan dominan di negeri ini, yakni mereka yang menganut bahwa pengarang sudah mati setelah karyanya lahir. Sebab saya mempunyai angle lain. Bahwa seni itu, sungguh adalah kehidupan itu sendiri. Kehidupan dimana fiksi dan fakta berimpit, saling menunjukkan dirinya seperti dua sisi mata uang dari keping yang sama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dan itulah seni fiksi dan seni fakta â€“ sebuah basis bagi pengertiaan saya tentang dunia penciptaan.</p>
<p>Barukah basis itu? Tidak. Kita bisa melihat seni fiksi dan seni fakta ini bekerja dalam tubuh dalang, dimana cerita wayang kita kagumi bukan hanya pada peristiwa yang diceritakan sang dalang, tapi oleh gerak dan gerik dari tubuh sang dalang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tuan Takdir mengobarkan Â« polemik kebudayaan Â» seraya dengan angkuh membenamkan tradisi sebagai sebuah masa lalu yang tak perlu diingat lagi. Tapi serentak dengan itu, segera pula ia memasuki kontradiksinya sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Katanya:<br />
Hal itu bukan sekali-sekali berarti, bahwa dalam kebudayaan Indonesia yang sedang tumbuh itu tiada akan terdapat sesuatu element prae-Indonesia jua pun. Pertentangan semangat prae-Indonesaia bukanlah pertentangan 100 persen, pertentangan dalam segala hal.</p>
<p>Tapi dia menulis juga, tentang “kebudayaan Indonesia tiadalah mungkin sambungan kebudayaan Jawa, sambungan kebudayaan Melayu, sambungan kebudayaan Sunda atau kebudayaan yang lain.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Atau seperti kata-kata Armijn, “kita mengakui keindahan pantun. Tapi tempatnya bukan pada masa kini.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tapi dengan cepat keangkuhan seperti ini patah oleh sebuah disertai Dahm, yang memperlihatkan betapa seorang Sukarno dibayang-bayangi oleh tradisi wayang yang digemarinya sejak kecil, yang telah membuat dirinya menjadi pemimpin modern Indonesia.</p>
<p>Dan itulah seni fiksi dan seni fakta. Kenyataan hidup yang menunjukkan dua sisi dari keping uang yang sama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ada yang hendak saya ulang-ulang, bila berhadapan dengan sejarah. Saya tak ingin mengatakan orang budaya telah kalah dengan orang politik. Tapi dengan getir saya bisa berkata: bahwa orang budaya tidak ada yang serevolusioner orang politik dalam temanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebab, bila orang politik melakukan perjuangan politik sampai masuk penjara dan dengan gemilang menuliskannya dalam teks politik (Indonesia Menggugat atau Renungan Indonesia misalnya), maka orang budaya menyerah pada sensor “Balai Pustaka”?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Lihatlah metapora yang dipakai dalam novel di kedua angkatan itu (Balai Pustaka dan Pujangga Baru). Tak satu pun kita temukan metapora tentang bebasnya Indonesia dari penjajahan kolonial. Tokoh-tokoh novel di dalam kedua angkatan itu, seolah kehilangan daya imajinasinya untuk memetaporakan kebebasan Indonesia melalui peristiwa dan makna novel yang diceritakannya. Padahal klaim bahwa sastra adalah alat perjuangan bangsa sudah menjadi jargon.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bahkan pada angkatan 45 pun, metapora tentang kebebasan ini tak kita temui. Sehingga kita menjadi sedih saat Jassin dalam bukunya Kesusastraan Indonesia Jaman Jepang, demi mencari metapora yang saya maksudkan, memaksa puisi Chairil Â« Hampa Â» sebagai metapora bagi kehendak untuk kemerdekaan Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kita tahu, Hampa bukanlah sebuah puisi yang bisa dicantelkan dalam bingkai kehendak untuk merdeka itu, karena Hampa adalah sebuah puisi dimana mekanisme jiwa Chairil sudah tidak tahan lagi akibat jalan hidup yang dipilihnya sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tuan Edy dalam postingnya menuntut saya agar radikal dan konsisten dalam berkata-kata. Agar jangan bereksistensi secara palsu saat berada di ruang manapun. Menarilah seperti dirimu, katanya. Tapi Tuan Edy lupa, apakah pengertian ruang dalam zaman yang makin menyempit ini? Dan apakah pengertian palsu?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bagi saya sebuah milis yang serius dengan temanya, senilai dengan sebuah ruang koran atau ruang buku. Dan apakah peserta milis ini masuk ke dalam “ruang yang lain”? Tentu tidak. Sebab ruang kini sudah berimpit: kita menjadi anggota suatu milis seraya tetap membaca dunia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kafka telah lama meninggalkan kita, dan karena itu ruang jiwanya tak mungkin berimpit pada ruang kita. Tapi sebagai orang yang datang belakangan, ruang jiwa Kafka masuk ke dalam ruang privat saya. Ruang privat yang saya pelihara dengan baik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tapi dalam ruang itu saya mesti menyisihkan ruang bagi otensitas saya sendiri. Saya juga harus menyisihkannya untuk ruang bagi nilai in absentia yang saya rindukan. Sebagai seorang seniman saya harus mampu menangkapnya untuk dihadirkan bukan pada masa depan tapi pada masa sekarang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Lama saya merenungi masa depan itu seperti buah apel di mana pohonnya ada tapi tidak terlihat dengan mata fisik kita. Atau entah di kandung telur siapa dan di sperma lelaki mana seorang “Hitler” yang lain. Ia ada di suatu tempat, di lelaki dan perempuan yang akan datang kemudian, sebagaimana sebuah rahim dan sperma yang akan membawa Newton yang lain. Atau mungkin “mereka” sudah hadir di masa kini? Siapa yang tahu. Dalam keseluruhan gerak semesta maha-luas ini, kita hanya setitik debu yang sombre sendiri.</p>
<p>Pohon apel itu hanya bisa dilihat dengan mata jiwa. Sebuah kesadaran yang membelah diri dengan radikal, yang tak hanya berpuas dengan tepuk tangan atau menangguk pujian (yang nyatanya kerap dilakukan melalui politik sastra yang berlebihan itu), adalah kesadaran yang mungkin bisa menangkap pohon yang telah hadir tapi tidak kelihatan itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Apakah palsu, kalau kita bereksistensi dengan ruang kita sendiri? Kalau kita tidak pernah beranjak dari ruang kita sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Palsu adalah sebuah tindakan eksistensi yang mengingkari hati nurani, yang dalam dunia politik menjadi samar mana strategi mana niat yang sudah dikebiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pada seorang seniman kepalsuan terbaca pada temanya, pada ungkapan jiwanya saat dia menulis. Tema sastra dari sebuah jiwa yang palsu suka membalik angin. Kalau badai besar datang dia sembunyikan temanya dalam retorika yang mengebiri pendiriannya. Kalau badai reda dia kembali dengan temanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sikap gagah-gagahan yang datang dari dunia kanak-kanak seperti itu, tentulah bukan etos yang kita kehendaki.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mengapa demikian?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Karena saya meyakini kesusastraan bukanlah sekedar pajangan huruf-huruf untuk olahraga pemikiran.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tidak.<br />
Kesusastraan adalah hidup itu sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Hidup dari rentang sakrataul maut, dari serius dan main-main.<br />
Mungkin main-main adalah sebuah bonus bagi jiwa yang resah dan gundah. Mungkin main-main adalah salah satu mekanismenya agar dia tidak gila. Tapi selebihnya kesusastraan adalah upaya menguakkan kebenaran. Menguakkan kebenaran sambil bermain-main. Karena bermain-main sesungguhnya adalah wajah lain dari sebuah kesungguhan.</p>
<p>Tentu saja menguakkan kebenaran bagi sastra adalah mengambil jalan menikung. Dalam tiap tikungan itu ia melambung, melambungkan pikiran untuk berimajinasi secara bebas, untuk berfantasi secara bebas. Karena hanya dengan kebebasan itulah barangkali pohon yang tak kelihatan tapi ada itu bisa dipetik. Dimakan buahnya oleh orang kini atau orang yang akan datang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tubuh kita boleh mati. Tapi pikiran kita akan abadi sebagai obor bagi mereka yang mencoba meraih misteri Tuhan dalam tiap bidangnya, dengan umpan yang mungkin dari kesusastraan.</p>
<p>Dalam dunia semacam itu, sungguh tidak ada tempat bagi sikap yang palsu. Apalagi sikap yang hanya seolah-olah telah berhasil menguakkan kebenaran lalu menghardikkannya dengan paksaan, padahal ia baru berjalan-jalan di kulit kebenaran. Kulit yang terasa sebagai dunia formal-moral- agama yang hendak mengkerangkeng kebebasan manusia dalam tiap ciptaan dan ekspresinya. Dari mereka yang miskin tafsir.</p>
<p>Karena tidak mau terkerangkeng, saya mencoba membuat kategori sendiri dalam upaya merebut makna dunia. Makna yang saya kategorikan sebagai takdir dunia, misteri dunia dan tafsir dunia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Karena itu saat membaca Kitab itu lagi, saya melihat ketimpangan demi ajaran moral yang baik, seolah buruk itu bukan dari Tuhan sebagai implementasi dari kategori takdir.</p>
<p>“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf. Dan Yusufpun bermaksud (melakukannya pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih.”</p>
<p>Inilah ayat tentang pelajaran pornografi, yang dengan sangat berani diceritakan oleh sang Penguasa Bumi. Berani, karena melibatkan Nabi yang dipilihnya sendiri.</p>
<p>Berhadapan dengan penceritaan semacam itu, tidaklah diperlukan imajinasi dan fantasi yang luar biasa untuk membayangkan sebuah pergumulan demi “permainan burung” yang akan berlangsung.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Segeralah kita tahu betapa Tuhan sayang pada kita. Mengajarkan bukan saja pandai berbicara tapi melatih imajinasi dan fantasi sebagai alat ampuh demi menguakkan rahasiaNya di langit dan di bumi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Menyadari betapa tak terperikan rahasia langit dan bumi, maka Dia membekali manusia dengan kebebasan berpikir tanpa batas, yang diajarkanNya secara imajinatif dan fantastik tentang benda-benda dan nafsu-nafsu manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tapi manusia mengkerangkeng kebebasan itu ke dalam tafsir yang sungguh bertolak belakang dengan apa yang Ia sendiri ingin maksudkan:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Ayat ini tidaklah menunjukkan bahwa nabi Yusuf a.s. punya keinginan yang buruk terhadap wanita itu (Zulaicha), akan tetapi godaan itu demikian besarnya sehingga andaikata dia tidak dikuatkan dengan keimanan kepada Allah s.w.t tentu dia jatuh ke dalam kemaksiatan.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bukankah teks itu sendiri yang berkata, bahwa keduanya saling menginginkan? Bahwa kemudian Yusuf melihat tanda dari Tuhannya maka “tanda” itu tidak serta merta menggugurkan “keinginan” yang sudah terlanjur menjalar ke dalam diri Yusuf.</p>
<p>Ataukah kita harus menafsirkan seperti ini: keinginan tersebut menjalar ke dalam diri Yusuf tapi secepat kilat ia berhenti, karena melihat tanda itu.<br />
Tapi apa pula bedanya perdefinisi “keinginan” seperti itu? Toh Tuhan tidak sedang bermain pokrol bambu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tuhan mencintai manusia. Tapi manusia suka membuat orang lain “malas” mencintai Tuhan.</p>
<p>Sebagaimana begitulah adanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tapi tak begitu seharusnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jakarta, 26 april 2008</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">(Hudan Hidayat)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/karyahudan.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/karyahudan.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/karyahudan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/karyahudan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/karyahudan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/karyahudan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/karyahudan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/karyahudan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/karyahudan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/karyahudan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/karyahudan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/karyahudan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/karyahudan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/karyahudan.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/karyahudan.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/karyahudan.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karyahudan.wordpress.com&amp;blog=3500435&amp;post=13&amp;subd=karyahudan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karyahudan.wordpress.com/2008/04/28/%e2%80%9cpolitik-sastra%e2%80%9d-versus-%e2%80%9cpolitik-tekstual-sastra%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99d8c1eef61bed870f7156c0c656ef16?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hudan Hidayat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ayat-ayat (&#8220;politik&#8221;) cinta</title>
		<link>http://karyahudan.wordpress.com/2008/04/26/ayat-ayat-politik-cinta/</link>
		<comments>http://karyahudan.wordpress.com/2008/04/26/ayat-ayat-politik-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 02:50:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hudan Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gumam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karyahudan.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[saya belum pernah bisa yakin sebuah novel bisa menjadi fenomenal di tengah masyarakat yang gemar bergunjing ketimbang membaca. fenomenal yang saya maksud: bahwa novel itu benar-benar menarik perhatian masyarakat luas dan pelangi karena mereka suka benar pada novel itu. dulu sinetron siti nurbaya menghebohkan masyarakat, tapi apa kenyataannya terhadap daya baca masyarakat &#8211; buku siti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karyahudan.wordpress.com&amp;blog=3500435&amp;post=12&amp;subd=karyahudan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>saya belum pernah bisa yakin sebuah novel bisa menjadi fenomenal di tengah masyarakat yang gemar bergunjing ketimbang membaca. fenomenal yang saya maksud: bahwa novel itu benar-benar menarik perhatian masyarakat luas dan pelangi karena mereka suka benar pada novel itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">dulu sinetron siti nurbaya menghebohkan masyarakat, tapi apa kenyataannya terhadap daya baca masyarakat &#8211; buku siti nurbaya itu sendiri? nihil: sastra tetap saja menjadi medan yang terpencil.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">saya menduga ayat-ayat cinta digerakkan oleh gerakan yang bukan dalam spirit &#8220;gemar membaca&#8221;, tapi dalam bingkai politik. lebih tepatnya: politik pada suatu nilai tertentu yang bersesuaian atas novel itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">kalau benar demikian, maka jangan bersenang hati dulu, karena cobalah buat survey siapa pembaca novel ayat-ayat cinta, dan darimana datangnya kegemaran membaca yang seolah jatuh dari langit itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">dugaan saya ini dikuatkan oleh kenyataan: kok tiba-tibanya petinggi negeri ini seolah gemar benar menonton film &#8211; film ayat-ayat cinta. lalu kemana mereka selama ini?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">tapi ayat-ayat cinta ini diberi anugerah oleh pusat bahasa sebagai novel yang berhasil menggugah daya baca masyarakat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">tapi kalau dugaan saya itu benar, maka persoalan yang tersisa adalah: berhentilah mempolitikkan segala sesuatu, demi tujuan politik yang entah untuk apa itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">sebab lawan kita dalam konteks global, bukanlah dunia seolah-olah, tapi dunia riel dimana kerjasama dan kompetisi demikian amat kerasnya. dunia seolah-olah itu pada saatnya nanti akan menenggelamkan kita dalam kubangan yang mungkin membuat kita sukar bangkit lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">tapi saya menghargai takdir penulis dan pembuat ayat-ayat cinta. itu namanya rejeki nomplok.</p>
<p>tapi sampai kapan kreator di negeri yang gemah ripah loh jenawi ini bisa bangkit atas kakinya sendiri? dimana segala sesuatu berjalan apa adanya tanpa harus direkayasa. tanpa harus seolah tebak-tebak buah manggis: rejeki nomplok.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">tapi kalau dugaan saya salah mohon dimaafkan. tapi rasa-rasanya benar sih.<br />
aih.</p>
<p>(hudan Hidayat)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/karyahudan.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/karyahudan.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/karyahudan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/karyahudan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/karyahudan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/karyahudan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/karyahudan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/karyahudan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/karyahudan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/karyahudan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/karyahudan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/karyahudan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/karyahudan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/karyahudan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/karyahudan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/karyahudan.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karyahudan.wordpress.com&amp;blog=3500435&amp;post=12&amp;subd=karyahudan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karyahudan.wordpress.com/2008/04/26/ayat-ayat-politik-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99d8c1eef61bed870f7156c0c656ef16?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hudan Hidayat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kelirunya Kaum Akademisi</title>
		<link>http://karyahudan.wordpress.com/2008/04/23/kelirunya-kaum-akademisi/</link>
		<comments>http://karyahudan.wordpress.com/2008/04/23/kelirunya-kaum-akademisi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 10:54:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hudan Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karyahudan.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Di penghujung tahun lalu, seakan gemas menyimak arah politik dan polemik sastra yang mengeras, seorang penyair dalam esainya meminta agar kembali kepada teks. Kembali kepada teks, artinya bukanlah menunjukkan ke depan publik “inilah saya”, seperti anggapan orang dengan polemik brutal Saut-Wowok dan Goenawan-TUK. Tetapi “inilah karya saya,” seperti yang terlihat dalam tanggapan balik terhadap Taufiq [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karyahudan.wordpress.com&amp;blog=3500435&amp;post=11&amp;subd=karyahudan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di penghujung tahun lalu, seakan gemas menyimak arah politik dan polemik sastra yang mengeras, seorang penyair dalam esainya meminta agar kembali kepada teks. Kembali kepada teks, artinya bukanlah menunjukkan ke depan publik “inilah saya”, seperti anggapan orang dengan polemik brutal Saut-Wowok dan Goenawan-TUK. Tetapi “inilah karya saya,” seperti yang terlihat dalam tanggapan balik terhadap Taufiq Ismail cs dalam “polemik sastra pornografi”.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Harapan penyair ini, sepintas mengandung kebenaran yang tegas. Tapi kalau kita simak lebih jauh, “inilah saya,” dan “inilah karya saya”, adalah sesuatu yang berimpit dan niscaya. Karena, “saya” berada di dalam “karya saya”. Dan saya yang sedang melakukan politik sastra atau politik tekstual sastra, bisa terjadi, atau tak bisa dilepaskan, dari “inilah karya saya”. Atau “inilah karya saya” bisa terjadi, atau tak bisa dipisahkan, dari “inilah saya”.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Kenyataan seperti itu, dimaknai Fadlillah Malin Sutan Kayo sebagai “pengarang atau kritikus yang tidak rela melepaskan kekuasaan atas makna karya sastra kepada pembaca”. Padahal masyarakat sudah bergerak ke arah multikultur. Karena itu, menurutnya, telah terjadi perebutan, bahkan tabrakan, kekuasaan atas makna karya sastra.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Darimanakah model pertama, dari cara menampilkan diri “inilah saya?” Tuhan bisa langsung menciptakan manusia tanpa harus mengatakannya. Tetapi toh Dia mengatakannya. “Akan Kuciptakan manusia ke dunia”, kata-Nya. Kata-kata Tuhan ini, adalah model pertama “inilah saya” itu, yang mewujud ke dalam bentuk dialog. Dan respon iblis itu model “konflik pertama”. Maka dialog dan konflik, menjadi paket niscaya dari pihak-pihak yang berkomunikasi.<span id="more-11"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Karena itu, mengharapkan dunia sepi dari konflik, nyaris mustahil. Sama mustahilnya meminta dunia tanpa dialog. Mematikan dialog terasa tak menghormati ajaran Tuhan, atau menantang Tuhan. Dan kemanakah kita kalau berpaling dari Tuhan? Tak akan kemana, karena kemana pun kau menghadap di sana wajah-Nya juga. “Inilah saya”, oleh Tuhan mewujud ke dalam inilah “karya Saya”, yakni dunia dan isinya. Kau boleh menggunakannya sesuai ajaran Saya. Tetapi ingat, karena “Saya” ada di sana, maka kau harus mengingat Saya dengan menyebut nama Saya. Banyak memuji dan memuliakan diri Saya. Segera terlihat Dia yang ingin “diakui”. Dan Dia yang murka bila “eksistensi-Nya” tak diakui.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Maka Tuhan tak cukup hadir beserta karya-Nya, tapi hadir juga beserta diri-Nya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Dengan landasan seperti itu, maka saya berpendapat bahwa seni bukan hanya terdedah dalam “kata”. Tapi juga dalam manusia. Sehingga dia menjadi “seni fiksi” dan “seni fakta”. Sehingga sebuah novel bukan hanya mengeram dalam aksara tapi juga mengeram dalam (diri dan ucapan) manusia. Maka novel menjadi manusia yang berjalan. Persambungan semacam ini mengisyaratkan sebuah dialektik: keindahan yang berjalan bolak-balik, antara novel dan pengarangnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Dialog dan konflik dalam sastra Indonesia (kini), bisa dipandang sebagai jejak dari seni fiksi dan seni fakta yang sedang memainkan perjalanan bolak-baliknya. Pada titik tertentu, seni fakta itu menjadi seni fiksi. Ia menjadi fiksi yang enak dinikmati (umpama gerak mata Saut dan Wowok yang seolah mengedip nakal, atau senyum Goenawan yang nampak misteri dan intelektual) . Selalu kita bisa mencari atau menemukan sisi-sisi humor dari dunia yang berkonflik. Saya telah menjelaskan filsafat “saya” dan “mengada” dari sumbernya. Tempat saya mengembalikan segala dialog dan konflik.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Karena itu, saya bisa mengerti bila Sutardji Calzoum Bachri tak cukup menuliskan O Amuk Kapak, tapi juga menulis esai. Bisa dikatakan seluruh buku Isyarat adalah manifestasi dari “inilah saya” dalam perspektif “inilah karya saya”. Itu adalah upaya yang wajar. Karena politik tekstual semacam itu, bukan saja dibutuhkan untuk mengawal “saya-nya” Sutardji yang telah terrepsentasi dalam “karya Sutardji”. Tapi ia adalah perwujudan dari seni fakta yang kini menemukan dirinya ke dalam seni esai. Bahkan seni dalam tubuh Sutardji sendiri (seni fakta â€“ tindakannya, ucapannya).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Angkatan 70-an, yang menurutnya telah menyelesaikan Barat dan Timur dalam sastra, tak jemu-jemu disuarakan Sutardji hampir pada seluruh esainya. Tardji seolah hendak menegaskan keberadaan dirinya di dalam tahun-tahun yang memang penuh hingar-bingar pencarian kreatif. Tapi Tadji lupa, di seberang sana ada Ayip Rosidi dan Ramadhan KH, yang juga menggenggam tradisi. Lagi pula bukan hanya angkatan 70-an yang melakukan eksplorasi habis-habisan dalam kesusastraan <span class="yshortcuts"><span style="cursor:pointer;">Indonesia</span></span> modern, seperti yang hendak diyakinkan Sutardji.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Begitu juga saya memaknai, bila seorang Budi Darma menulis Para Pencipta Tradisi. “Marilah kita bayangkan ada seorang pengarang terkemuka bernama Nirdawat”, katanya.<br />
Siapakah Nirdawat? Tidak lain adalah Budi Darma sendiri. Mengapa Budi Darma mengambil ekspose semacam itu? Apakah ia enggan, karena akan menunjukkan Rendra yang dikatakannya sebagai “Pak turut para teater terkemuka di <span class="yshortcuts"><span style="cursor:pointer;">New York</span></span>?” &#8211; “Bangsat! Sesuai dengan dugaan saya, orang yang dianggap dramawan itu menjiplak dari sini”, kata Nirdawat.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Atau saat ia mengatakan ketidakberdayaan Goenawan Mohamad atas tulisan “Portrait of an Artist as a Doddering Man”, yang diejeknya sebagai “Potret Seorang Seniman Sebagai Orang Buyetan”. Dimana “Pintalan kata-kata dan pikiran orang yang dianggap umum sebagai esais di <span class="yshortcuts"><span style="cursor:pointer;">Indonesia</span></span> itu tidak lain dan tidak bukan hanyalah bias buku ini”. Tetapi tebaran-tebaran esai Goenawan kemudian toh menunjukkan pencapaian-epncapai annya sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Dan apakah kata Budi Darma terhadap dirinya sendiri? “Sebagai seorang pengarang terkemuka, tentu saja Nirdawat sendiri sudah membentuk sebuah tradisi. Dia tahu benar betapa banyak orang yang telah meniru-nirukan tulisannya”. Jadi Budi Darma, melalui metapor Nirdawat ini, telah menunjukkan “inilah saya”, yang sumbernya tidak lain dan tidak bukan, “inilah karya saya”.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Saya menunjukkan penggalan sejarah itu, untuk membuka kedok mereka (tua dan muda) yang seolah bersuara arif, atau meledek, “Menulis sajalah. Biarkan orang lain yang akan menilai karyamu.” Atau yang sering dikatakan mereka dengan (seolah) elegan: setelah karya lahir, maka sang pengarang pun meninggal. Karena, mereka yang berkata seperti itu, ternyata menyelundupkan juga “inilah diri saya” ke dalam esai-esainya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Karena itu, saya ingin mengajak berhentilah menjadi “narsiskus malu-malu”.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Membicarakan “inilah saya” bukanlah narsis. Tapi menjadi kelanjutan dari “inilah karya saya” yang sering menjadi deadlock di dalam dunia kritik sastra, karena belum hidupnya tradisi dialog, atau karena macam-macam ambisi di dalamnya “yang tak ada hubungan sama sekali dengan klaim pemikiran: upaya untuk mencari atau menemukan kebenaran. Dan dengan perspektif inilah saya membaca peluncuran buku puisi Nirwan Dewanto baru-baru ini, yang lengkap dengan sebuah pernyataan bolak-balik antara “inilah karya saya” dengan “inilah saya”, seperti terbaca di dalam “buku kecil” sebagai properti dalam acara peluncuran buku puisi itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Saya mengatakan itu, tidak dalam perspektif yang dipakai Kayo (pengarang dan kritikus yang tidak rela melepas kekuasaan atas makna sastra), tapi sebagai “mengawal makna sastra”, yang menjadi implikasi logis dari seseorang yang sedang menunjukkan dirinya secara eksistensial: mereka yang berada dalam dunia, dan mereka yang menafsirkan dunia yang menghidupi mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Tapi makna sastra, meski sang pengarang atau kritikus “mengawalnya”, telah diambil alih oleh pembaca, sebagaimana dikatakan Kayo. Dan pembaca sastra Indonesia, bisalah dikatakan sebagai cermin aliran-aliran politik di Indonesia yang terkenal itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Karena itu bisa dijelaskan, setelah periode ledakan “Saman” dan “<span class="yshortcuts">Supernova</span>”, dunia sastra kini sedang diserang wabah “Laskar Pelangi” dan “Ayat-Ayat Cinta”. Sebuah wabah yang, mungkin, telah mencengkam benak seorang Sutardji dengan kata-kata: sehebat-hebat karya sastra, dia tak akan punya arti kalau tidak hebat pula dalam pencapaian pada pembaca. Tapi, siapa pembaca yang dimaksud Sutardji itu? Orang banyak yang selama ini terasing dari sastra, atau orang banyak yang mengerti sastra tapi bersepakat terhadap suatu pencapaian karya sastra?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Kayo menghendaki masyarakat sastra multikultural yang santun, saling menghargai pendapat orang lain. Hemat saya, tulisan dengan semangat membela Taufiq Ismail itu, adalah tulisan yang bersiasat dalam logikanya: di satu pihak ia meneriakkan kata santun, menerima dan membenarkan kenyataan aliran kesusastraan, bahwa kebenaran juga adalah milik orang lain, bukan milik kita sendiri. Tapi bersamaan itu, cara ia mengungkap data jelas mengarah atau menunjuk kepada sebuah aliran â€“ aliran “sastra pornografi”.<br />
Dengan “melupakan” Taufiq Ismail yang melansir istilah Gerakan Syahwat Merdeka, Fiksi alat Kelamin, maka “santun” yang dimaksud Kayo adalah kekasaran metodologi dalam penyajian data. Santun di sana seolah sebuah kehendak untuk mengesankan pembaca tulisannya, bahwa sang sastrawan, atau aliran yang sedang jadi objek tulisannya, ditempatkan dalam keadaan “bersalah atau tertuduh”. Ketidakimbangan data dari kedua belah pihak yang berpolemik (Taufiq menyebutnya “polemik-polemikan”, tapi masyarakat menyambutnya antusias, bahkan di dunia maya ada yang menyebutnya sebagai hidupnya kembali pertarungan “sekularisme Nurcholis Madjid” tahun 70-an lapangan sastra) telah menggugurkan “santun” yang dikehendaki Kayo, ke dalam suatu ketimpangan arus data yang tidak “santun”.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Bagi saya tak mengapa. Tapi, Sutan Kayo sebagai warga dari sebuah komunitas akademis (dosen sastra Andalas), yang tak juga beranjak dari penanggap polemik sastra pornografi sebelumnya (berpendapat ada “sastra seks”), tanpa pembuktian akademis, telah melakukan pembalikan spirit dunia ilmu. Sikap ini, bagi saya telah ikut mematikan ilmu <span class="yshortcuts"><span style="cursor:pointer;">itu</span></span> sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Tetapi perspektif “inilah saya” dan “inilah karya saya” ada batasnya. Meskipun ia bagian dari cara mengada yang mendapatkan pembenaran sebagai sesuatu niscaya, seperti di dunia politik orang bertarung untuk memperebutkan kekuasaan politik, atau di dunia lain melakukan rekayasa untuk menguakkan konvensi alam, sehingga menjadi sebuah teori yang bisa menjinakkan alam, maka saat batas itu dilanggar, alam yang sudah berhasil dijinakkan itu justru menjadi bumerang. Kalau sudah begitu, bukan kemudahan yang didapat manusia saat batas dilanggar tapi bencana alam. Kerusakan seperti yang terus menerus kita saksikan selama ini, adalah contoh nyata dari pelanggaran batas itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Agaknya batas-batas itu, baru-baru ini telah dilanggar di bidang sastra. Adalah penghargaan Mastera kepada Ayu Utami, menunjukkan pelanggaran batas itu. Sudah menjadi rahasia umum di publik sastra, bahwa kedua orang juri di dalam penghargaan Mastera (Sapardi Djoko Damano dan Putu Wijaya), dekat atau dalam lingkaran ide dan kekuasaan dengan Goenawan Mohamad. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Ayu Utami dengan Saman-nya adalah sebuah karya “kolaborasi” TUK yang dikomandani Goenawan Mohamad. Dan sudah menjadi rahasia umum pula, bahwa Taufiq Ismail, adalah orang yang sangat berperan dan berpengaruh di lingkaran Mastera sebagai wakil dari <span class="yshortcuts"><span style="cursor:pointer;">Indonesia</span></span>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Pelanggaran ini, bagi saya memperlihatkan sebuah fenomena yang menarik. Seolah saya melihat di sini pertarungan atau perdamaian dua aliran sastra. Yakni sastra yang berkiblat kepada moral yang datang dari agama yang diwakili oleh Taufiq Ismal di satu pihak, dan sastra yang diwakili oleh kebebasan ekspresi tanpa harus dikekang oleh moral agama di pihak lainnya, yang dalam ajang penghargaan Mastera ini diwakili oleh Ayu Utami dengan Saman-nya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Taufiq Ismail, sebagai orang yang sangat berperanan di dalam Mastera, tentulah secara ideologis tidak akan membiarkan Ayu Utami yang, sepanjang tahun 2007, bersama pengarang-pengarang lain, telah diklaimnya sebagai pembawa sastra dengan semangat “Fiksi Alat Kelamin”.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Bagaimana mungkin “Fiksi Alat Kelamin” bisa menang di dalam ajang penghargaan Mastera ini? Pertanyaan ini, tentulah membawa kita pada sebuah pertanyaan lain: apakah peran Sapardi Djoko Damono dan Putu Wijaya dalam penghargaan itu?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Kalau peranan Sapardi dan Putu Wijaya berjalan normal di dalam ajang penghargaan ini, maka sebuah kesimpulan yang paradoks harus kita terima sebagai sebuah kenyataan, yakni bahwa ajang penghargaan Mastera itu, adalah sebuah ajang yang sangat toleran kepada segenap aliran-aliran sastra, termasuk sasta dengan pendekatan “fiksi alat kelamin” seperti yang diintrodusir oleh Taufiq Ismail. Kesimpulan ini nampaknya dikuatkan oleh fakta di lapangan, yakni saat Pusat Bahasa memberikan penghargaan pula kepada novel Ayat-Ayat Cinta sebagai sebuah novel yang telah berhasil menggugah masyarakat untuk membaca karya sastra.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">Tetapi kalau peranan Sapardi dan Putu Wijaya berjalan dengan tidak normal, sudah cukup alasankah bagi kita untuk sampai kepada suatu kesimpulan, bahwa telah terjadi pelanggaran batas terhadap filsafat “inilah saya” dan “inilah karya saya” yang sesungguhnya amatlah manusiawi itu? Pelanggaran yang menyempit pada satu arah: novel Saman. Dan mengapa harus novel Saman? Bagaimana mengujinya dari perspektif kritik sastra, dalam deretan novel atau pengarang yang lain?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span class="yshortcuts"><span style="cursor:pointer;">Jakarta</span></span>, 4/1-22/4 2008</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;">(Hudan Hidayat)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/karyahudan.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/karyahudan.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/karyahudan.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/karyahudan.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/karyahudan.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/karyahudan.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/karyahudan.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/karyahudan.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/karyahudan.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/karyahudan.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/karyahudan.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/karyahudan.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/karyahudan.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/karyahudan.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/karyahudan.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/karyahudan.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karyahudan.wordpress.com&amp;blog=3500435&amp;post=11&amp;subd=karyahudan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karyahudan.wordpress.com/2008/04/23/kelirunya-kaum-akademisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99d8c1eef61bed870f7156c0c656ef16?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hudan Hidayat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ilmuwan</title>
		<link>http://karyahudan.wordpress.com/2008/04/16/ilmuwan/</link>
		<comments>http://karyahudan.wordpress.com/2008/04/16/ilmuwan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 17:39:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hudan Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karyahudan.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Dimuat di Republika, 12/15/2002 Saya membayangkan munculnya ilmuwan gila yang menemukan hukum-hukum tersembunyi alam semesta, dan berdasarkan hukum-hukum itu, ia dapat mempercepat jalannya planet, sehingga tata surya menjadi kacau dan planet-planet bertabrakan. Bayangan saya ini persis seperti kemunculan Hitler atau Musolini dalam panggung sejarah.Karena pikiran semacam itu, akhirnya saya jadi takut. Sebab bagi saya kehidupan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karyahudan.wordpress.com&amp;blog=3500435&amp;post=6&amp;subd=karyahudan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span class="medium-color">Dimuat di Republika, <a href="http://www.republika.co.id/" target="_blank"></a>12/15/2002</span></p>
<p style="text-align:justify;">Saya membayangkan munculnya ilmuwan gila yang menemukan hukum-hukum tersembunyi alam semesta, dan berdasarkan hukum-hukum itu, ia dapat mempercepat jalannya planet, sehingga tata surya menjadi kacau dan planet-planet bertabrakan. Bayangan saya ini persis seperti kemunculan Hitler atau Musolini dalam panggung sejarah.Karena pikiran semacam itu, akhirnya saya jadi takut. Sebab bagi saya kehidupan ini sangat mengasyikkan. Saya bisa membaca dan pergi berjalan-jalan. Atau mengintip orang berdandan. Kalau ilmuwan gila itu muncul, maka saya tidak dapat meneruskan kesenangan-kesenangan saya. Masa saya bisa hidup kalau bumi meledak menjadi serpihan?Sejak pikiran itu muncul, saya jadi waspada. Tapi mula-mula saya memeriksa diri saya: mengapa gagasan konyol itu seperti ilham yang datang dari langit, menyeruak tidak bisa saya cegah. Tetapi saya tidak menemukan jawabnya. Dia seakan hadir begitu saja. Akhirnya saya biarkan gagasan itu pelan-pelan menguasai diri saya.Saya mulai mengamati sekeliling saya: siapa kiranya ilmuwan yang datang dalam mimpi saya itu. Tetapi negeri ini masih belum bisa berpikir sendiri. Jadi tidak mungkin di sini. Bagaimana kalau Amerika atau Eropa? Nah, kalau itu mungkin. Bukankah mereka yang suka melahirkan pikiran-pikiran canggih? Lagi pula mereka adalah guru. Sedang lainnya adalah murid.Saya menjual harta saya. Kebetulan saya datang dari keluarga kaya: ayah saya, karena ketampanannya, kawin sama janda kaya. Ayah saya itu memang gila: dia hanya menjual ketampanannya, dan hanya itu yang dia jual. Hingga suatu ketika ayah terpikat dengan wanita lain, yang tentu saja lebih kaya dari istrinya. Tapi bagaimana pun dia ayah saya. Dan bagaimana pun istrinya itu telah melahirkan seorang anak, ya saya ini. Jadi ketika ibu saya membunuhnya karena cemburu, saya tidak begitu peduli. Sebagian karena saya berpendapat, bahwa itu adalah ganjaran yang setimpal untuk ayah. Yang penting, ibu tidak jahat pada saya. Bahkan telah mewariskan harta yang banyak sekali. Jadi untuk semua itu, cukuplah.Saya mulai mengembara ke Amerika. Saya harus menemukan ilmuwan gila itu. <span id="more-6"></span>Saya akan mengajaknya bicara baik-baik. Agar mengurungkan maksudnya menghancurkan semesta. Saya mengambil kuliah astronomi. Saya bisa masuk ke sini karena otak saya cerdas. Lagi pula saya menghubungi seorang professor yang saya kenal melalui chatting, dan saya memanfaatkan rekomendasinya. Professor itu mau menolong saya, karena ia teman kencan saya di komputer.Waktu saya sampai ke Amerika, profesor kekasih saya berangkat ke kutub utara. Ia terinspirasi oleh Quran yang saya berikan. Ia ingin memikirkan soal tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Apakah alam semesta dengan galaksi-galaksinya adalah tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Apakah tata surya baru di langit lapis pertama. Jadi masih enam lapis langit lagi. Lalu bagaimana dengan tujuh lapis bumi. Apakah lapis-lapis itu memang lapisan bumi. Atau ada lapis lain lagi. Atau semua lapis-lapis itu hanyalah metapor. Tata surya itulah lapisan-lapisan yang dimaksud.Proffesor kekasih saya itu bingung. Dan dia butuh menyepi ke kutub utara. Jadi dia menitipkan salam hangat penuh penyesalan. Betapapun takjub saya pada tata surya, demikian bunyi surat e-mailnya, lebih takjub lagi saya pada perasaan-perasaan kita. Saya tahu, perasaan dan otak yang kita gunakan untuk berkencan ini, adalah hasil kerja struktur otak dan kelenjar-kelenjar dalam tubuh. Tapi, siapakah yang telah menciptakan otak dan kelenjar dalam tubuh? Tidak mungkin proses evolusi. Lebih tidak mungkin lagi ia hanya benda-benda alam. Misal batu atau gas yang berevolusi dalam waktu tak terhingga, lalu melompat jadi manusia. Sebab dari mana perasaan hangat yang menguasi diriku ini, sayang? Dari mana datangnya nafsu-nafsu kita? Ah, saya harus mengejar penjelasannya. Sampai ke tempat paling jauh sekalipun. Pasti ada sebab pertama di mana semua ini berasal. Di Amerika saya tidak berbahagia. Pastilah juga di Eropa. Atau belahan dunia lain. Sebab saya tidak menemukan apa yang saya cari. Semua orang yang saya temui sehat-sehat. Mereka berbicara tentang hal-hal yang baik, ngomong tentang kebenaran. Lebih tepat berpendapat apa yang seharusnya terjadi, sambil menyalahkan apa yang dibuat orang. Karena semua orang berpendapat demikian, akhirnya saya jadi bingung: siapa yang melakukan kejahatan yang dikeluhkan? Apakah tidak seorang pun? Bukankah mesti ada yang berbuat, sehingga orang berpendapat, segalanya tidak mesti seperti sekarang, tapi terjadi dengan cara lain. Saya menuliskan semua kebingungan saya kepada kekasih saya. Saya ceritakan kegundahan saya. Termasuk ketakutan saya akan munculnya ilmuwan gila yang sedang saya cari-cari itu. Tetapi entah mengapa dia tidak pernah membalas email saya. Saya mencoba menelpon ke kutub utara, tempat dia bekerja. Tapi seseorang yang tidak jelas identitasnya mengatakan sesuatu yang samar. Tuan Smith pergi dengan segala perbekalannya. Sampai hari ini belum pulang. Saya tahu, tapi pergi ke mana? Mana saya tahu. Dia tidak mengatakan ke mana perginya. Apakah ada seseorang yang mungkin tahu? Mungkin. Tetapi saya harus mendapatkan informasinya dulu. Kapan? Sesegera mungkin saya akan menemukannya. Pada kesempatan pertama saya akan mengontak Anda.Pada kenyataannya, sudah satu tahun berlalu, dan orang itu tidak pernah mengontak saya. Kekasih saya tidak juga ada kabar beritanya. Setahun. Dua tahun. Tiga tahun. Lima tahun. Saya menunggu. Saya setia menantinya. Tapi dia seperti lenyap ditelan bumi. Seakan misteri sebab pertama yang dicarinya, begitulah kekasih saya hilang dari pandangan saya. Apakah dia ditelan gunung es. Atau kecantol cowok lain? Tidak mungkin. Saya setia. Dia setia. Atau pekerjaannya benar-benar menyerap dirinya, sampai lupa segala sesuatu. Rasanya tidak pula. Masa dia sampai begitu. Kekasih saya memang proffesor. Tapi penuh kehangatan. Kehangatan adalah hiburannya, ketika tegang tidak juga menemukan Sebab Pertama yang dicarinya.Akhirnya saya melupakan kekasih saya. Seperti sejarah melupakan peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Dan saya mulai mencari ilmuwan gila itu sungguh-sungguh. Pasti dia ada dan pasti saya bisa menemukannya. Tidak mungkin tidak. Yang saya perlukan adalah mengamati orang-orang secara cermat. Siapa tahu ilmuwan gila itu sebenarnya sudah berbicara dengan saya, tapi saya tidak tahu karena kurang perhatian.Saya mulai membuntuti seseorang yang mencurigakan. Dia proffesor fisika yang selalu tepat waktu. Jam tujuh pagi dia berjalan seperti orang dikejar setan, melalui kamar apartemen kami. Suara sepatunya jatuh di atas karpet merah yang terbentang sepanjang kamar-kamar apartemen. Tengah malam baru suara sepatu itu terdengar lagi. Begitulah selama enam bulan ini. Sehari pun tidak pernah meleset. Proffesor itu menata waktunya seperti jam yang berputar. Apa yang dikerjakannya dalam kamarnya?Saya sudah melihat pekerjaan di laboratoriumnya, dengan menyamar sebagai pembersih ruangan. Tidak ada yang aneh. Dia melakukan percobaan-percobaan layaknya semua fisikawan. Tapi siapa tahu di dalam kamar. Dari lubang pintu apartemen saya melihat matanya yang bundar. Berputar cepat sekali seperti orang gila. Mungkin dialah orangnya. Mata yang berputar seperti itu bagi saya terasa menakutkan. Siapa tahu dalam kamarnya penuh alat-alat yang tak terbayangkan. Siapa tahu dia sedang menyiapkan rumus-rumus yang membuatnya menemukan hukum-hukum yang tersembunyi itu. Dan dengan kegilaannya mulai mengacak-ngacak irama alam semesta.Karena pertimbangan itu, saya menyelinap ke kamarnya. Hal ini saya lakukan dengan mudah. Karena sudah tiga tahun saya mulai belajar membuka kunci pintu, tanpa harus merusaknya. Saya masuk, lama saya mengamati isi kamar. Rasanya tidak ada yang aneh. Yang mencolok adalah boneka seks seukuran manusia. Boneka itu terbaring di ranjang dalam posisi telentang, seperti perempuan yang baru dipakai. Agaknya ahli fisika ini suka bermain seks dengan boneka. Pantas saya tidak pernah melihat perempuan dalam kehidupannya.Saya mencari petunjuk kalau-kalau si ahli fisika ini adalah ilmuwan gila yang selalu menguasai pikiran saya, seperti Descartes yang merindukan kebenaran sejati. Semua kamar ini nampak wajar. Tak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Tapi, tunggu dulu? Apa itu? Nah, inilah buku catatan harian si ahli fisika. Jangan-jangan di sinilah dia menyembunyikan hasil penelitiannya. Tak ada yang menarik dari catatan ahli fisika itu. Isinya berselang-seling antara kegelisahan intelektual dan kekenesan sehari-hari. Seraya ngotot mencari tabir alam semesta, ia mengeluhkan dirinya sendiri. Saya merasa kesepian di tengah keramaian, katanya. Sebab saya tidak pernah mengakui keberadaan orang. Bagi saya, orang lain tak ada. Dalam arti yang sebenar-benarnya. Bukan dalam arti filosofi tertentu. Maka jadilah saya orang yang kesepian. Saya merasa sendirian di alam raya. Sedangkan alam raya membisu sepanjang masa. Ah, betapa ngerinya! Ahli fisika itu juga mengeluhkan dirinya yang selalu merasa tidak pernah fit. Apa yang kurang dalam diri saya? Saya merasa cepat lelah. Padahal saya sehat sekali. Saya juga bosan dengan boneka seks saya. Tapi mau bagaimana lagi? Saya tidak mempunyai seorang pun. Saya bosan dengan catatan harian itu. Ternyata ahli fisika sama juga dengan manusia biasa, pikir saya. Punya segudang masalah seperti orang kebanyakan. Saya menyimpulkan pastilah bukan dia ilmuwan gila yang selalu muncul dalam mimpi-mimpi saya. Tak ada yang mencurigakan sama sekali.Saya pergi meninggalkan kamarnya dengan putus asa. Kemana lagi saya harus mencari ilmuwan gila itu. Rasanya ke Eropa atau tempat-tempat lain sama saja. Saya pasti akan mengalami nasib seperti yang baru saja saya alami. Jadi kemana lagi? Sementara saya yakin betul bahwa ilmuwan gila itu benar-benar ada. Bahkan sedang bekerja menyiapkan senjata mautnya. Jawabnya segera saya dapatkan. Ketika masuk dan menghempaskan diri dalam kamar apartemen, saya membuka internet dan masuk dalam box email. Saya hampir bersorak gembira, ketika membaca tulisan Smith kekasih saya. Honey, maafkan saya menghilang sekian tahun. Saya sungguh-sungguh tak mengira begini jadinya. Saya kira tadi cuma penelitian biasa. Artinya saya dapat terus berkomunikasi denganmu. Nyatanya penelitian ini benar-benar menyerap diriku. Sampai saya tidak bisa tidur. Kamu tahu penelitian apa ini? Puji syukur pada otak manusia! Saya telah berhasil memecahkan misteri alam semesta! Dalam pengertian yang paling jauh. Saya mengerti mengapa alam tercipta dan bergerak seperti ini. Sejak awal maupun akhir. Saya juga mengerti alam manusia, tumbuh-tumbuhan dan binatang. Pokoknya, segala hal yang dipertaruhkan ilmuwan di segala punjuru, sudah dalam genggaman saya. Bagi saya apa yang ada dalam alam raya ini sudah terang benderang. Tak ada lagi yang tersembunyi di mata pengelihatan saya. Juga roh dan Tuhan, saya tahu semua. Sekali saya sudah bisa menguakkan misteri, maka segala gerak dalam kehidupan ini: planet, bakteri, manusia atau binatang, sudah dalam genggaman saya. Saya bisa mempercepatnya, menjadikannya jalan di tempat, atau bahkan memutar mundur sekalipun. Benar, sayalah si tukang jam yang dapat mempercepat waktu, menghentikannya atau malah membalikkan jarumnya. Karena pengetahuan ini, sekarang saya akan mengultimatum dunia. Saya akan membuat matahari, bulan dan bintang-bintang yang maha jauh itu mendekat, sampai mereka bersinggungan, lalu hancur seperti bulu-bulu beterbangan. Saya akan melakukannya, agar alam semesta tahu, sayalah yang berkuasa, bukan Tuhan seperti yang orang kira. Sebab, sayalah Tuhan itu.Saya terpaku. Tubuh saya serasa hilang. Saya mengklik sight out, mematikan komputer. Sesaat saya nanar, dan mengira ilmuwan gila itu adalah saya sendiri.***</p>
<p style="text-align:right;" align="right">Jakarta, 10 November 2002</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/karyahudan.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/karyahudan.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/karyahudan.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/karyahudan.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/karyahudan.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/karyahudan.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/karyahudan.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/karyahudan.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/karyahudan.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/karyahudan.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/karyahudan.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/karyahudan.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/karyahudan.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/karyahudan.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/karyahudan.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/karyahudan.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karyahudan.wordpress.com&amp;blog=3500435&amp;post=6&amp;subd=karyahudan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karyahudan.wordpress.com/2008/04/16/ilmuwan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99d8c1eef61bed870f7156c0c656ef16?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hudan Hidayat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KUCING HITAM</title>
		<link>http://karyahudan.wordpress.com/2008/04/16/kucing-hitam/</link>
		<comments>http://karyahudan.wordpress.com/2008/04/16/kucing-hitam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 17:34:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hudan Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karyahudan.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Dimuat di Media Indonesia 08/11/2002 KAPANKAH ia datang padaku? Kukira hari ini. Dalam gerak angin menumbuk kapal, aku bersiap-siap. Kukencangkan sabuk pengaman. Kami dalam ketinggian. Tapi apa guna sabuk pengaman ini? Sedang aku mengharap mesin mati. Lalu menabrak karang. Atau tenggelam dalam lautan. Maka itulah saat yang kutunggu: maut menjemput diriku. Aku ingin sekali melihat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karyahudan.wordpress.com&amp;blog=3500435&amp;post=5&amp;subd=karyahudan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="xbig"></span><span class="medium-color">Dimuat di                                                                                         Media Indonesia  <a href="http://www.mediaindo.co.id/" target="_blank"><img src="http://www.sriti.com/images/home.gif" border="0" alt="Silakan Kunjungi Situsnya!" width="8" height="8" /></a> 08/11/2002</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">KAPANKAH ia datang padaku? Kukira hari ini. Dalam gerak angin menumbuk kapal, aku bersiap-siap. Kukencangkan sabuk pengaman. Kami dalam ketinggian. Tapi apa guna sabuk pengaman ini? Sedang aku mengharap mesin mati. Lalu menabrak karang. Atau tenggelam dalam lautan. Maka itulah saat yang kutunggu: maut menjemput diriku. Aku ingin sekali melihat maut itu. Dalam bentuknya yang asli. Bukan tidur. Berarti aku harus terjaga. Membelalakkan mata. Merasakannya kerat demi kerat. Seperti orang mengunyah piza.Sudah 99 kali aku nyaris melihat maut. Tapi pada saat-saat terakhir, ia selalu menghindar. Dan, itu adalah kegagalan yang menyakitkan. Membuatku pedih dan penasaran. Sampai tak ada lagi yang kukerjakan, kecuali mengintainya. Karena jemu dan capek, kadang gairahku yang besar itu mati. Tapi pada saat seperti ini, ia datang dengan rayuan dan bujukan. Memastikan aku pasti berhasil. Ketika aku menyala kembali, ia meliuk seperti pemain bola. Sehingga aku kalap dibuatnya. Maka kubantai apa saja yang ada. Tanpa pandang bulu lagi. Capek membantai manusia, kadang aku masuk ke dalam rimba. Mencari rajanya, kalau-kalau dia dapat membantuku. Sama saja. Aum dan cakarnya tak juga melumpuhkanku. Meski kami sudah bersimbah darah. Sampai akhirnya aku berhasil mematahkan batang lehernya. Dan, kemarin giliran istriku. Ia jago bela diri. Jadi, bolehlah aku berharap mati. Karena itu, kuterkam dia. Kutusuk dengan belati. Saat hampir kena, kuperlahankan gerakku. <span id="more-5"></span>Memberi kesempatan agar dia bisa menghindar. Dan, memang dia bisa menghindar. Tapi setan! Dia bukan mau membunuhku malah merenung iba. Membuatku seperti anak kecil tertangkap mencuri. Jadi, kamu ingin mati. Baiklah kamu mati. Maka kuhunjamkan belati berkali-kali. Istriku ternganga tak percaya, sebelum mengatup mata.Alangkah mengganggunya keinginan ini. Aku tidak bisa tidur lagi. Seperti apa lagi maut yang akan datang padaku? Segalanya sudah kulakukan. Bahkan aku sudah masuk dalam medan perang. Melemparkan granat, menembak musuh, ditembak musuh. Tak ada yang membuat maut datang padaku. Sampai ketika benar-benar ingin melihatnya: aku berjalan ke arah musuh tanpa persiapan. Melenggang dengan senjata di tangan. Menjulur-julurkan kepala dan badanku. Mereka malah tertawa-tawa. Mendapat hiburan seakan aku orang gila. Sakit hati karena diperlakukan seperti itu, aku menembakkan senapan otomatisku. Komandannya berteriak, awas! lelaki ini bukan orang gila! Begitulah aku dikejar puluhan orang dan kulompati parit demi parit, berlari ke daerahku sendiri. Kawan-kawanku menembakkan senapan mesin berat, saat aku melompati parit terakhir. Mereka memelukku dan seorang kawanku sambil mengalungkan medali berkata, kawan-kawan, inilah contoh prajurit yang baik itu, berani menyusup ke daerah musuh, sendirian. Oh, nestapa, keinginanku cuma sederhana: melihat maut datang dan melawannya dalam arena.Pada sebuah pagi, aku tersentak, kalau benar-benar ingin melihat maut, mengapa tidak gigit lidahmu sampai mati? Atau menusukkan belati. Menembak kepala dengan pistol. Pikiran ini membuatku berdebar. Benar juga. Mengapa tidak terpikir selama ini? Tapi aku tidak mau mati bunuh diri. Aku ingin kematian alami. Sebab yang bukan datang dari diriku. Aku ingin merasakan maut menghampiri dan aku dapat bersiap-siap. Menyambutnya dan bersiasat padanya. Menguji kemungkinan-kemungkinannya. Sebab tidak ada hal yang menarik di dunia kecuali kematian. Kita hidup, lalu mati. Proses dari hidup menuju mati itulah yang mengundang tanya. Apakah sebab kematian kita? Kapan? Tidak bisakah kematian itu direkayasa? Sebabnya yang kita buat sendiri. Lalu kita mati. Tidak bisa? Mengapa tidak bisa? Jadi aku harus mencoba sepanjang hidupku, sampai kata-kata &#8216;tidak bisa&#8217; itu terbukti padaku. Maka mulailah aku memusatkan pikiran pada hal itu: di mana dan dengan cara apa aku dapat menemui maut. Tapi, peristiwa apa yang akan menimpaku? Aku begitu sigap dan secepat peluru. Bagaimana maut bisa datang padaku. Sakit? Tubuhku sehat sekali. Kujaga tubuhku. Kuberi makanan yang bergizi. Kuberi latihan lebih dari cukup. Sehingga tak mungkin teperdaya oleh manusia &#8212; juga alam semesta. Belum lagi instingku. Aku dapat membaca sesuatu yang akan terjadi. Anda pasti tidak percaya. Tapi begitulah kenyataannya. Banyak hal yang sudah aku tahu. Aku bisa melihat kapal tenggelam. Mobil masuk jurang. Emas dalam ngarai. Aku bisa melihat pembunuhan yang terjadi beribu-ribu kilometer dari tempatku berdiri. Aku bisa melihat orang onani. Pencuri yang beraksi di malam hari. Semua begitu jelas di mataku. Yang tidak pernah aku tahu adalah mautku sendiri. Dan, karena itu aku selalu menciptakannya. Menantangnya. Kalau-kalau di baliknya ada mautku yang tersisa.Aku juga pernah melihat kejadian yang akan menimpa negeri ini. Menurut penglihatanku, negeri ini akan kacau balau, tepi bergolak, tengah juga. Tak ada yang bisa dipercaya, karena orang hanya bermain dengan kata-kata. Sebagai kelanjutannya aku melihat kita akan lenyap: bangsa-bangsa tetangga datang menyerbu. Dan kita lumpuh. Sampai orang-orang tepi itu melakukan perjuangannya sendiri-sendiri. Begitulah kita terbenam dalam pertempuran selama lima belas tahun. Sampai kemudian kita benar-benar menjadi bangsa yang kuat, menyadari betapa hebat karunia Tuhan, dan keluar sebagai bangsa pemenang. Baru setelah perang besar itu, tumbuhlah pribadi-pribadi tepercaya, penuh kegembiraan hidup. Pribadi yang matang oleh pertempuran, bangsa yang selamat dari perang. Tapi siapakah yang mau mendengar diriku? Aku hanya seorang manusia penuh kompleks. Aku bisa melihat masa depan tapi gemar membunuh orang. Aku hanya seorang lelaki yang ingin melihat mautnya sendiri.Maka ketika pada sebuah malam aku melihat tubuhku berada dalam pesawat yang meluncur menuju karang, alangkah senangnya hatiku. Aku ingin sekali bernyanyi-nyanyi, melompat-lompat gembira. Tapi aku melihat hal lain lagi. Agak samar tapi membuatku mengurungkan lompatan kegembiraanku. Seakan kulihat seekor kucing hitam melesat dari lautan api. Sangat gesit meski tubuhnya besar dan perkasa. Kucing hitam lambang jiwaku. Namun aku tetap harus naik pesawat itu. Menyaksikan sendiri apa yang terjadi di atas sana.Kami merasakan getaran yang sangat hebat. Pesawat terasa berderak-derak. Histeria yang tadi bersahutan sekarang menghilang. Tercekam dalam ketakutan. Terpaku pada kursi kami sendiri. Seorang pramugari muncul dari balik kabin. Lalu disusul pilot pesawat. Aku melihat maut di wajah mereka. Pilot dan pramugari itu hancur dimakan api. Tapi aku belum melihat mautku sendiri. Tenanglah! Tenanglah! Memang ada kerusakan dan sebuah mesin mati, ditambah angin yang sangat kencang. Tapi kami akan mengatasinya. Harap kerja sama agar segalanya berjalan dengan baik. Seorang ibu di sebelahku berdesis, menggigil dalam doanya. Ya Tuhan, sekali ini saja, kabulkan doaku. Kabulkan doaku. Aku melihat wajah suami dan anakku. Betapa aku menginginkan mereka. Tapi percuma. Karena kulihat perempuan ini juga mati. Terbakar dilalap api. Bola besar itu menelan seisi pesawat. Tapi di manakah mautku? Mautku, di manakah kamu, sayangku? Aku tetap tak melihatnya di bawah gunung karang itu. Tempat pesawat kami hancur dan serpihan-serpihannya tertiup angin jauh sampai ke pantai di mana turis-turis berenang menjemur diri.Duduk di sampingku, sebaris di kiri, seorang ibu muda yang lain memeluk bayinya kuat-kuat. Ia tidak mengucapkan apa-apa. Ia hanya berdoa dalam hatinya. Anak umur tiga bulan itu tergolek tenang. Dan sama seperti diriku, aku tidak melihat maut di wajah mereka. Kusapa mereka dengan anggukan. Tenanglah, kita akan selamat. Ya, saya kira begitu. Saya juga merasa akan selamat dari musibah ini. Kemudian kami berpegangan lagi, ketika untuk kesekian kalinya kami rasakan pesawat kembali berderak-derak. Kali ini kembali pilot keluar dan berbeda dengan sebelumnya, jelas kelihatan kepanikan di wajahnya. Meski dengan sekuatnya ia mencoba menyembunyikannya. Ia memberi perintah yang tidak terdengar oleh kami. Tapi, pramugari itu segera berlari dan membawa apa yang diminta oleh pilot itu.Kucing hitamku kembali melesat menembus lautan api, bersama beberapa orang termasuk ibu dan bayi itu. Entah bagaimana mulanya, pada hitunganku yang keseratus, badan pesawat seakan berbalik. Saat itulah aku melihat selang-selang pernapasan berjuntaian. Aku menangkap selang itu dan mulai bernapas dengan baik. Tapi, kemudian kembali aku tidak bisa bernapas saat kurasakan besi mati ini meluncur tanpa suara, dan orang-orang di dalam pesawat menjerit-jerit bagai orang gila. Aku merasakan dengan nikmat detik-detik kritis itu. Lambung pesawat terbuka. Kudengar angin mengamuk seperti alam marah memekakkan telinga. Awan berlarian di samping kami saat semua orang mengatupkan mata. Pesawat menghunjam ke bumi. Aku seakan melihat alam lain warna-warni. Pikiranku tenang. Perasaanku juga. Maut, datanglah padaku, meski aku tidak bisa berbuat sesuatu. Inilah saat yang sudah lama kutunggu. Yang agak kusesalkan adalah aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sehingga tidak bisa bersiasat menghindar darinya. Tapi aku masih belum yakin juga. Sebab, kembali kulihat kucing hitam itu melesat menembus gelombang api, saat aku merasakan getaran mahahebat dan mulai tidak bisa mengenali apa-apa lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;">Untuk Amien Rais</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;">Jakarta, 5 Agustus 2002</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/karyahudan.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/karyahudan.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/karyahudan.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/karyahudan.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/karyahudan.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/karyahudan.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/karyahudan.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/karyahudan.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/karyahudan.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/karyahudan.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/karyahudan.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/karyahudan.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/karyahudan.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/karyahudan.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/karyahudan.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/karyahudan.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karyahudan.wordpress.com&amp;blog=3500435&amp;post=5&amp;subd=karyahudan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karyahudan.wordpress.com/2008/04/16/kucing-hitam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99d8c1eef61bed870f7156c0c656ef16?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hudan Hidayat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.sriti.com/images/home.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Silakan Kunjungi Situsnya!</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
