Bahasa yang Mencari Kata

Bahasa yang Mencari Kata

Adalah roh yang membutuhkan ruang, yakni ruang tubuh dan ruang bahasa. Tanpa roh, ruang tubuh 
dan ruang bahasa hanyalah benda mati. Pada tubuh, benda mati itu mungkin berupa kaki atau tangan 
yang terpotong, atau tangan dan kaki yang lengkap, sebagai bagian dari tubuh. Pada bahasa, 
ia adalah bentuk grafis dari huruf. 
    ‘Benda mati’ sebagai unit terkecil dari bahasa, seperti kaki atau tangan yang terpotong, 
adalah bagian dari kenyataan yang terserak. Maka sebagai benda mati, 
mereka tidak bisa mengenali kenyataan, apalagi memainkan kenyataan. Mereka bisa mengolah kenyataan, 
apabila mereka hidup, memiliki tenaga, dan kekuatan. Seperti pusaran air yang mengisap.  
    Tenaga bahasa adalah kesadaran, yang seolah arus listrik dengan kabel-kabel yang menjuntai, 
di mana pikiran dan perasaan, gagasan dan harapan, berada di dalamnya. Kesadaran adalah pancaran roh 
yang tak mau lepas dari Tuhannya. Juga tak mau lepas dari semesta. Pada dunia, kesadaran itu seolah kasmaran—
seakan pemuda yang tak mau lepas dari cintanya.Kesadaran sebagai tenaga bahasa, bertemu dengan 
misteri bahasa sebagai kemungkinan bahasa. Mereka bersama menyingkap dunia— dunia kenyataan. 
Dengannya kenyataan ditimang, atau dicampakkan. Dengannya kenyataan diberi bentuk. Seolah jabang bayi 
dalam perut ibu. 
Misteri bahasa tak akan menjadi tenaga bahasa, tanpa manusia yang menyadari. Secanggih apa pun permainan 
bahasa– bentuk dan cara menyusun huruf, ia akan tetap menjadi parade benda mati, tanpa kesadaran. 
Kesadaranlah yang mengenali dan mengolah kenyataan. Ia seperti matahari yang menyiram bumi. Bumi yang 
terkena matahari itu, hidup dan berkembang, merangkai dirinya, menjelmakan makna dirinya. Dengan jalan 
begitulah manusia membangun dunia, dunia yang direngkuhnya dari kenyataan, yang mencengangkannya sebagai 
mahluk di bumi.Kenyataan semesta adalah rangkaian benda-benda yang terserak di alam. Seperti pecahan batu 
yang jatuh dari tubuhnya. Atau sepotong ranting yang terenggut dari batangnya. Fragmentasi dua benda alam ini, 
hanyalah seonggok benda mati– keindahan dan fungsinya ada dalam kelengkapan tubuh batu dan tubuh batangnya. 
Atau seperti tangan dan kaki manusia yang terputus dari tubuhnya. Mereka tidak berjiwa, tidak hidup, 
karena jiwa dan kehidupannya ada di dalam tubuh induknya. Mereka cuma fragmen di alam, seperti kuku burung 
yang jatuh dan mengering. Keindahan kuku burung ini ada dalam keutuhan burung itu sendiri. Kuku itu akan 
menjadi hidup saat ia ada dalam tubuh burung. 
Begitulah saya menghayati tampilan dari huruf-huruf. Huruf-huruf yang kita pandang. Huruf-huruf yang memandang.
Grafis a, b, c, dan seterusnya, adalah benda mati seperti fragmen alam adalah benda mati. Mereka belum 
berjiwa, belum hidup, dan tak dapat mengenali, dan mengolah kenyataan. Mereka belum berkesadaran. Maka 
apakah bahasa? Bahasa adalah huruf-huruf yang dijatuhi, huruf-huruf yang merangkai kesadaran. Rangkaian 
huruf inilah yang menjelmakan misteri— misteri bahasa. Misteri bahasa datang dari kesadaran, dari rangkaian, 
dari permainan dan kemungkinan huruf-huruf. 
Seperti roh yang terperangkap dalam tubuhnya, begitulah manusia terperangkap dalam semesta. Atau seperti 
kesadaran terperangkap dalam kata-kata. Mereka yang terperangkap ini ingin melepaskan diri, tapi bukan 
untuk melarikan diri. Mereka ingin menjangkau dan mengenali, siapakah gerangan yang membuat mereka 
terkurung— tak bisa lepas. 
Murung, putus asa, sesekali harapan, adalah ciri dari mereka yang terperangkap. Tapi tidak menyerah 
dan kalah. Upaya ‘perlawanan’ dilakukan dengan membuat symbol— juga metafor, untuk menjangkau keluar 
dari dirinya, atau masuk ke dalam dirinya. Gerak dari roh yang gelisah ini, membutuhkan ruang, yaitu 
bahasa. Maka bahasa pun bergerak. Ia mengerahkan huruf-hurufnya, demi melayani gelisahnya kesadaran, 
atau hasrat kesadaran untuk mengangkat dirinya, merebut makna dunia yang tak dikenalinya, atau coba dikenalinya. 
Karena itu tiang dan akhir, topang dan duka, belum membentuk makna apa-apa, belum memisteri apa-apa, 
saat ia kita baca sebagai fragmen. Apalagi kalau kumpulan kata-kata itu dipotong dan potongannya 
dipisahkan. Maka ia hanya grafis huruf. Belum dapat memancing kesadaran pembaca, karena memang belum 
diberi kesadaran oleh penulisnya. Tetapi saat penulisnya bergerak, merangkai kata-kata itu, ke dalam 
penghayatannya akan kenyataan alam, maka menjelmalah semua kata-kata itu, membentuk dunia kenyataan. 
Dalam puisi Sutardji (Colonnes Sans Fin), dunia kenyataan yang kita kenali seolah ‘tiang tanpa akhir’. 
Si aku-lirik berhadapan dengan keluasan semesta tanpa batas. Kepada siapa dia bertanya, makna keluasan 
semesta? Tak seorang pun yang dapat dijadikan rujukan. Sebab tak ada yang dapat menjelaskan misteri semesta. 
Indera manusia, hanya dapat menjangkau sejauh indera itu sendiri. Tapi ‘mengapa dunia’, ‘kemanakah kau 
dan aku’, dalam keluasan semesta itu, tak seorang pun yang tahu. Karena itu, ‘tiang tanpa topang itu’, 
seolah telah menjadi ‘tanda duka luka’nya. Ia berduka, karena dalam keluasan semesta ia tak mengerti. 
Menyadari itu, si aku-lirik pun bergumam, ‘betapa kecilnya kau jauh di bawah kakiku’. 
Inilah dunia kenyataan yang bukan saja berhasil menguak misteri semesta, tapi juga memunculkan misteri 
bahasa. Sebab bahasa di sana telah memberi tenaga untuk merengkuh semesta, terpukau dengan semesta. 
Ia telah membuat kehidupannya sendiri, logikanya sendiri. Dari huruf-huruf ‘mati’, tiba-tiba ia bergerak, 
hidup, merangkai, dan akhirnya mengandung semesta dalam dirinya. Tiang, akhir, sebagai kata (kenyataan) yang 
kita kenal, adalah biasa, tak bertenaga, tak bermisteri. Tetapi begitu ‘tiang’ itu digabung dengan ‘akhir’, 
lalu ditambahkan kata ‘tanpa’, maka menjelmalah keluasan tanpa batas itu (tiang tanpa akhir tanpa 
apa di atasnya). (Oh indahnya!). Maka misteri bahasa, datang dari bagaimana kata-kata itu saling 
merangkai, saling bermain. Sebaliknya, semesta itu akan buyar, dan membuyar, bila rangkaian huruf-huruf 
tadi dipenggal, dan diceraikan dari tubuhnya— tubuh bahasa. Misterinya pun akan berantakan. Ia kembali 
menjadi benda mati—  jejeran grafis dari huruf-huruf. 
Bila puisi Sutardji itu diarahkan pada semesta dalam ke-luas-annya, maka puisi Amir Hamzah mencoba 
merengkuh Tuhan dalam ke-tiada-an-Nya. Bila Sutardji memakai metafor ‘tiang’ yang melambangkan keluasan 
alam, maka Amir Hamzah memakai metafor ‘makhluk yang bercakar’, yang dapat ‘cemburu dan ganas’, 
melambangkan Tuhannya. Tuhan yang telah ‘memangsanya’, yang membuat ‘segala cintanya hilang terbang’, 
kecuali pada Tuhan itu sendiri. Situasi aku-lirik dengan Tuhannya, dalam puisi Padamu Jua ini, 
seolah sepasang kekasih di mana seorang mencinta sungguh, sedang lainnya seolah acuh. Karena itu 
si aku-lirik menjadi ‘nanar, gila sasar’. Tapi ia terus berusaha merengkuh Tuhannya. Ia terus 
‘bertukar tangkap dengan lepas’ (Oh, misterinya!).
Demikianlah kesadaran mencari bahasa, dan misteri bahasa mencari kata-kata. Kesadaran yang ingin 
mengenali dan mengolah alam. Bahasa yang ingin mengenali dan mengolah makna. Mereka ingin menumpahkan 
diri. Diri yang tumpah itu, adalah diri yang terbuka di hadapanmu. Kau tinggal memetiknya. Memungutnya 
dengan kesadaran, serta misteri bahasa dalam dirimu.
(hudan hidayat)






























Elit yang Mengolah Alam

Tragedi bangsa Indonesia sebagai negara yang mempunyai kekayaan alam yang melimpah, adalah abainya kebijakan negara yang membuat segenap warganya berpikir obsesif, bahwa untuk menjadi kaya dan sejahtera haruslah mengolah kekayaan alamnya dengan tangannya sendiri. Sehingga kita membangun dan tumbuh bukan semata berdasar pengetahuan (tehnologi) dan bantuan orang lain, tapi bertumpu dengan modalnya sendiri. Yakni sumber daya manusia Indonesia yang mengolah alamnya yang kaya raya.

Abainya kebijakan ini terbaca dari tiadanya policy dengan strategi pertumbuhan yang berkait dengan sistem persekolahan sebagai penopang yang menghasilkan sumber daya manusia untuk mengolah sumber daya alamnya.

Ini berimplikasi pada sekolah-sekolah kita yang tumbuh dan berkembang bukan sebagai sebuah sistem dari kehidupan intelektual yang menghayati kenyataan hidup, yang lalu menghasilkan pengetahuan dan tehnologi yang membawa anak didiknya berorientasi mengelola alam dimana mereka tinggal. Kurikulum serta contoh saat peroses pendidikan itu berlangsung, menjauh dari kenyataan kehidupan di mana sang anak berada. Bahkan menjauhkan anak dari desa dan melemparkan mereka ke kota. Baca lebih lanjut

Revolusi Diam Kaum Muda

Sebuah statemen tak bisa mengelak dari klaim. Seperti “sumpah kaum muda” adalah klaim akan rasa memiliki: Indonesia yang bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu. Dan klaim tak memerlukan referendum “diterima atau ditolak” bergantung isi statemennya sendiri. Teks “Proklamasi” dipuja rakyat Indonesia karena dengannya, mereka bebas dari belenggunya.

Antara “Sumpah Pemuda” dan “Proklamasi”, ada ide yang berlanjut. “Sumpah” adalah upaya penyatuan, sedang “Proklamasi” adalah upaya pernyataan. Ke-Indonesia- an yang telah disatukan kini dinyatakan telah merdeka, tak terikat atau tunduk pada penjajahnya. Ia merdeka. Ia bebas.

Dua teks di atas adalah karya “akbar kaum muda”. Akbar, karena ia berdaya mimpi dan berdaya inspirasi: mereka mengimajinasikan sesuatu yang belum ada, masih in absentia. Tetapi dengannya “in absentia” itu mewujud.

Indonesia telah jauh meninggalkan sejarah itu. Baca lebih lanjut

Letupan Hati Seorang Feminis

Carolina,

Cerpen “tradisional” bertaruh dengan plot yang mengusung watak dan konflik, suasana dan pastilah bahasa juga. Tapi cerpen “modern” apalagi “postmodern”, tidaklah terantai dengan semua unsur-unsur fiksi itu. Karena fiksi itu, seperti kerja lamunanmu itu sendiri: bisa mengimajinasikan sebuah bintang, yang kamu harapkan jatuh di depan kakimu.

Semangat yang berkobar ke dalam pilihan diksi dalam bahasa prosamu yang mengusung rakya jelata dengan konteks sebuah daerah (Kupang) yang kau kenal dan karena itu familiar, adalah kekuatan dari cerpen monologmu ini.

Sahkah?

Mengapa tidak?

Justru kekuatan cerpen seperti itu, adalah bagaimana dan bisakah dia menarik pembaca ke dalam renungannya – menariknya dari awal sampai akhir.

Saya tidak melihat kelelahan kamu bercerita di sana. Justru saya melihat banyak ruang kosong yang kamu masih bisa ekspose ke dalam keliaran imajinasi yang nampaknya akan menjadi kekuatanmu dalam menulis prosa.

Misalnya saat cerpen memasuki renungan:

Baca lebih lanjut

“Politik Sastra” Versus “Politik Tekstual Sastra”

“Politik tekstual sastra” sangat berbeda dengan “politik sastra”, “sebagaimana jaringan urat dan daging dalam tubuh”. Perbedaan yang telah dilompati oleh Tuan Edy A Effendi. Lompatan semacam ini, adalah kehendak untuk mencampur dan mengabur fenomena hidup.

Feminisme sebagai fenomena kehidupan, membawa wacana peran perempuan dan peran lelaki. Tapi, saat Simone De Beauvoir pandang-memandang dengan dunia dan mulai menuliskan bukunya Second Sex, bukanlah “politik tubuh” tapi “politik tekstual tubuh”.

Upayanya membongkar konstruksi budaya patriarkal yang bukan dalam arti gerakan, adalah investigasi sejarah yang mengikutkan ceruk-meruk pikiran, tentang hakekat tubuh perempuan dan tubuh lelaki.

“Politik tekstual tubuh” ini baru menjadi “politik tubuh”, saat seorang Gadis Arivia di Indonesia mendirikan Jurnal Perempuan.

Mengapa “politik tubuh” dengan prinsip kebenaran diperlukan? Baca lebih lanjut

ayat-ayat (“politik”) cinta

saya belum pernah bisa yakin sebuah novel bisa menjadi fenomenal di tengah masyarakat yang gemar bergunjing ketimbang membaca. fenomenal yang saya maksud: bahwa novel itu benar-benar menarik perhatian masyarakat luas dan pelangi karena mereka suka benar pada novel itu.

dulu sinetron siti nurbaya menghebohkan masyarakat, tapi apa kenyataannya terhadap daya baca masyarakat – buku siti nurbaya itu sendiri? nihil: sastra tetap saja menjadi medan yang terpencil.

saya menduga ayat-ayat cinta digerakkan oleh gerakan yang bukan dalam spirit “gemar membaca”, tapi dalam bingkai politik. lebih tepatnya: politik pada suatu nilai tertentu yang bersesuaian atas novel itu.

kalau benar demikian, maka jangan bersenang hati dulu, karena cobalah buat survey siapa pembaca novel ayat-ayat cinta, dan darimana datangnya kegemaran membaca yang seolah jatuh dari langit itu.

dugaan saya ini dikuatkan oleh kenyataan: kok tiba-tibanya petinggi negeri ini seolah gemar benar menonton film – film ayat-ayat cinta. lalu kemana mereka selama ini?

tapi ayat-ayat cinta ini diberi anugerah oleh pusat bahasa sebagai novel yang berhasil menggugah daya baca masyarakat.

tapi kalau dugaan saya itu benar, maka persoalan yang tersisa adalah: berhentilah mempolitikkan segala sesuatu, demi tujuan politik yang entah untuk apa itu.

sebab lawan kita dalam konteks global, bukanlah dunia seolah-olah, tapi dunia riel dimana kerjasama dan kompetisi demikian amat kerasnya. dunia seolah-olah itu pada saatnya nanti akan menenggelamkan kita dalam kubangan yang mungkin membuat kita sukar bangkit lagi.

tapi saya menghargai takdir penulis dan pembuat ayat-ayat cinta. itu namanya rejeki nomplok.

tapi sampai kapan kreator di negeri yang gemah ripah loh jenawi ini bisa bangkit atas kakinya sendiri? dimana segala sesuatu berjalan apa adanya tanpa harus direkayasa. tanpa harus seolah tebak-tebak buah manggis: rejeki nomplok.

tapi kalau dugaan saya salah mohon dimaafkan. tapi rasa-rasanya benar sih.
aih.

(hudan Hidayat)

Kelirunya Kaum Akademisi

Di penghujung tahun lalu, seakan gemas menyimak arah politik dan polemik sastra yang mengeras, seorang penyair dalam esainya meminta agar kembali kepada teks. Kembali kepada teks, artinya bukanlah menunjukkan ke depan publik “inilah saya”, seperti anggapan orang dengan polemik brutal Saut-Wowok dan Goenawan-TUK. Tetapi “inilah karya saya,” seperti yang terlihat dalam tanggapan balik terhadap Taufiq Ismail cs dalam “polemik sastra pornografi”.

Harapan penyair ini, sepintas mengandung kebenaran yang tegas. Tapi kalau kita simak lebih jauh, “inilah saya,” dan “inilah karya saya”, adalah sesuatu yang berimpit dan niscaya. Karena, “saya” berada di dalam “karya saya”. Dan saya yang sedang melakukan politik sastra atau politik tekstual sastra, bisa terjadi, atau tak bisa dilepaskan, dari “inilah karya saya”. Atau “inilah karya saya” bisa terjadi, atau tak bisa dipisahkan, dari “inilah saya”.

Kenyataan seperti itu, dimaknai Fadlillah Malin Sutan Kayo sebagai “pengarang atau kritikus yang tidak rela melepaskan kekuasaan atas makna karya sastra kepada pembaca”. Padahal masyarakat sudah bergerak ke arah multikultur. Karena itu, menurutnya, telah terjadi perebutan, bahkan tabrakan, kekuasaan atas makna karya sastra.

Darimanakah model pertama, dari cara menampilkan diri “inilah saya?” Tuhan bisa langsung menciptakan manusia tanpa harus mengatakannya. Tetapi toh Dia mengatakannya. “Akan Kuciptakan manusia ke dunia”, kata-Nya. Kata-kata Tuhan ini, adalah model pertama “inilah saya” itu, yang mewujud ke dalam bentuk dialog. Dan respon iblis itu model “konflik pertama”. Maka dialog dan konflik, menjadi paket niscaya dari pihak-pihak yang berkomunikasi. Baca lebih lanjut